Translate

20100321

KUASA MAUT DITUNDUKAN OLEH KEBANGKITAN KRISTUS

-->Yohanes 20:1-18
“Aku mau hidup seribu tahun lagi”, demikian salah satu karya puisi dari Chairil Anwar. Ungkapan ‘aku mau hidup seribu tahun lagi’ adalah ungkapan kerinduan hampir setiap orang untuk memiliki hidup lebih lama, panjang umur bahkan kerinduan memiliki hidup yang tidak mengenal kematian. Itulah sebabnya sejak dahulu sampai saat ini manusia selalu berusaha untuk mendapatkan hidup yang lama, panjang umur dan kekal itu. Contoh usaha ini adalah mengawetkan mayat pada jaman Mesir Kuno, ramuan obat awet muda, bedah plastik dan sampai teknologi kloning yang dapat menggandakan tubuh manusia untuk mengganti tubuh lama yang telah tua dan rusak dengan tubuh baru hasil kloning sehingga hidup seseorang dapat dilanjutkan. Di atas segala kerinduan dan usaha manusia itu pada akhirnya manusia tetap harus menghadapi kenyataan yaitu kematian. Rakyat jelata atau seorang raja pada akhirnya sama akan menghadapi kematian dan berakhir di kuburan.

Kematian adalah kuasa yang dahsyat yang telah dan akan terus menelan hidup milyaran orang dan makhluk hidup lainnya di dunia ini. Sepanjang kehidupan di dunia ini tetap ada kematian terus menghantui.   Apa penyebab kematian itu? Alkitab menjawab: “Upah dosa adalah maut”  dan “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Jadi dosa-lah yang membuat hidup manusia berakhir pada kematian. Karena itu untuk mengalahkan kematian persoalannya bukanlah pada tubuh manusia itu sendiri dengan diawetkan, bedah plastic atau kloning, tetapi pada dosa yang harus diselesaikan. Bagaimana caranya? Dapatkah kita, manusia menghapuskan dosa? Tidak seorang pun! Kecuali Dia, Yang Datang dari Surga, Yang tanpa dosa, dan Yang telah mati menghapuskan dosa kita, yaitu Yesus! Itulah sebabnya ketika dosa dihapuskan dengan kematian-Nya di kayu salib, maka KUASA MAUT DIKALAHKAN OLEH KEBANGKITANNYA.

Alkitab menyaksikan bahwa kubur Yesus telah kosong (ay. 5-7), murid-murid tidak menjumpai-Nya di kuburan sebagai mayat yang terbujur kaku dengan kain kafan yang membungkusnya, karena Ia telah bangkit dan hidup. Yesus-lah yang menjumpai Maria dan murid-murid-Nya yang lain untuk memberi harapan baru kepada mereka dengan kebangkita-Nya (ay. 15-17).

Hari ini, melalui berita Paskah, Yesus yang bangkit itu datang dan menyapa kita, kata-Nya, “MAUT TELAH DIKALAHKAN, HARAPAN BARU HIDUP KEKAL TELAH DATANG, maukah Saudara menerimanya dan hidup “seribu” tahun lagi?

Selamat Paskah! Yesus Hidup, Ia hidup bagi kita!

Handri Rusli

20100204

TETAP BERTUMBUH DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN


Oleh: Handri Rusli

 
Matius 13:24-30 

Ketika manusia melihat kenyataan KAJAHATAN di dunia ini yang semakin hebat. Dan kenyataan penderitaan orang-orang tak bersalah. Sebuah pertanyaan klasik sering muncul  mempertanyakan tentang apa peran yang Ilahi dalam peristiwa yang dialami umat manusia, pertanyaan itu ialah:
·         Jika Allah ada, mengapa Allah membiarkan kejahatan di dunia ini terus ada?
·         Mengapa Allah diam saja ketika banyak orang tak bersalah dianiaya oleh orang jahat/fasik?
Pertanyaan sejenis ini selalu dipertanyakan orang dari dulu sampai sekarang:

-          Pemazmur pernah berkata: “Mengapa Engkau Berdiri jauh-jauh ya Allah?
-          Orang Yahudi pada jaman Hitler berkata: ‘Dimanakah Allah? Mengapa Allah diam saja ketika sang  Hitler membunuh orang-orang Yahudi?
-          Dan mungkin ketika peledakan menara kembar di New York, beberapa waktu lalu pun, banyak orang bertanya: “Mengapa Allah membiarkan hal ini terjadi?”

Kejahatan terus berkembang bukan saja secara kuantitas; jumlahnya semakin banyak, jangkauannya semakin luas (mendunia) dan semakin detil sehingga ada dalam setiap segi kehidupan manusia, termasuk hal yang dianggap paling suci sekalipin yaitu agama/gereja. Contoh: banyak orang yang menganiaya/membunuh sesamanya dengan atas nama agama/gereja.

Tetapi juga secara KUALITAS, kejahatannya semakin canggih, semakin kejam dan semakin banyak menelan korbannya, seperti serangan terorisme di New York, sekali pukul ribuan orang meninggal.

Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan terus ada di dunia ini? Dan bagaimana Firman Tuhan menjawab hal  ini?



            Pertanyaan tetang mengapa kejahatan terus ada di dunia ini, dan mengapa Allah seolah-olah diam saja dengan apa yang terjadi, juga merupakan bagian pergumulan dan pertanyaan orang-orang Yahudi pada zaman Yesus.

Namun di tengah-tengah pergumulan mereka, mereka percaya bahwa bila Mesias datang atau bila pemerintahan Allah berlaku maka Allah akan menyingkirkan orang-orang fasik dengan segala kejahatannya dari kehidupan orang-orang yang baik. Hal ini didasarkan pada:
-          Yesaya 11:4, yg mengatakan bahwa: Mesias itu akan menghajar bumi dengan perkataan-Nya seperti dengan tongkat dan dengan nafas mulut-Nya Ia akan membunuh orang fasik”
-          Yohanes pembaptis juga mengatakan, bahwa jika Allah memerintah maka Ia akan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, dan debu jerami akan dibakar-Nya
“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” (Mat.3:10,12)

Itulah keyakinan mereka; jika Allah memerintah, Ia akan memisahkan orang-orang baik dengan orang-orang jahat.

Namun ternyata ketika Yesus datang dan memproklamirkan bahwa Kerajaan Allah telah datang, mereka tidak melihat Yesus menghakimi atau menyingkirkan orang-orang jahat/ orang-orang yang menindas mereka dari antara mereka.
Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa jika Yesus tidak menyingkirkan orang fasik dari antara orang percaya maka Yesus bukanlah Mesias.

Untuk menjelaskan hal ini, Yesus menceritakan perumpamaan yang kita baca dalam Matius 13:24-30.

Kata-Nya, “Hal Kerajaan Sorga/Allah seumpama….” Apa itu Kerajaan Allah/Sorga?
*Kerajaan Allah ini, tidak bicara soal tempa/ ruang dan waktu,  tetapi soal suasana yaitu soal suasana pemerintahan Allah yang berlaku dalam diri setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Jadi Kerajaan Allah ini menembus ruang dan waktu, artinya: Dimana saja; baik di dunia ini atau di dunia yang akan datang, dan di sepanjang waktu; baik sewaktu di dunia ini maupun di waktu kekekalan nanti, jika kita percaya kepada Allah dan menjadikan-Nya Raja yang memerintah hidup kita, maka kerajaan Allah berlaku pada kita.

*Perumpamaan ini diambil dari bidang pertanian, dan istilah yang dipakai oleh Yesus bukanlah hal yang asing bagi orang di Galilea pada zaman itu.
·         mereka mengetahui ada semacam lalang (ilmiahnya: lolium temulentum) yang daunnya hampir sama dengan daun gandum, tetapi bulirnya sangat berbeda dengan gandum. Itulah sebabnya ketika gandum dan lalang itu mulai berbulir, maka setiap orang dengan mudah dapat membedakannya.

·         Lolium itu dianggap musuh oleh petani karena bulirnya beracun, sehingga bila ada bulirnya yang tercampur dengan gandum dan dimakan orang, maka bisa berakibat pusing, pingsan dan mati, tergantung kadarnya.

·         Ceritanya: ada seorang tuan menaburkan benih gandum yang baik di ladangnya. Ketika ia tidur, musuhnya menaburkan benih lalang. Ketika gandum dan lalang itu tumbuh dan mulai berbuah, tampaklah bahwa ada lalang di antara gandum itu.

·         Ketika para hamba tuan itu hendak mencabut lalang-lalang itu, tuan itu melarangnya dengan alasan gandum itu juga bisa tercabut, karena akar lalang dan gandum itu sudah saling menjalin. Cara terbaik untuk menyingkirkan lalang itu ialah tunggu sampai pada musim menuai, mereka akan dipisahkan; gandum dimasukan ke lumbung, sedangkan lalang akan dibakar dalam api.

·         Arti perumpamaan ini terdapat pada Matius 13:36-43, Tuan=Yesus, musuh=iblis, gandum=orang percaya, lalang=anak sijahat, ladang=dunia, waktu menuai=akhir zaman, para penuai=malaikat.

·         Yang dipersoalkan dalam perumpamaan ini adalah mengenai orang jahat dan orang baik/orang percaya yang hidup bersama-sama di dunia ini. Hukuman untuk orang jahat ditunda dan mereka tidak langsung dihukum oleh Yesus di dunia ini.

·         Hal ini merupakan ajaran yang baru bagi orang Yahudi, memang pada akhirnya Mesias akan membakar lalang/menghukum orang jahat, tapi Kerajaan Allah itu masih bertumbuh dan untuk sementara waktu si jahat masih ada bersama-sama orang percaya.

·         Dengan cara yang indah inilah, Yesus mengajar bagaimana keadaan dunia sekarang ini.


Dengan perumpamaan ini, Tuhan Yesus mau mengatakan kepada kita tentang situasi dunia yang bagaimanakah kita sebagai orang percaya ini hidup:
1.       Dunia tempat kita hidup ini, adalah dunia di mana orang fasik/jahat pun hidup bersama-sama. Mereka hidup dan terus bertumbuh di dalam kefasikannya, karena itu kita pun harus bertumbuh di dalam iman kita, karena bila tidak, maka iman kita akan mati terhimpit oleh kefasikan.

2.       Hidup di dunia seperti ini adalah hidup yang penuh dengan tantangan; seperti gandum di antara lalang atau seperti domba di tengah serigala. Tantangan ini bisa berbagai macam bentuknya: Bisa kejahatan, kekerasan, materialisme, konsumerisme, kemajuan jaman dsb. Jadi bagi orang percaya, selama ia hidup di dunia ini, tidak mungkin baginya mengharapkan suatu hidup yang berjalan mulus, indah tanpa ada tantangan yang harus dihadapi.

3.       Dalam pertumbuhan iman orang percaya, yang penting bukanlah ada atau tidaknya tantangan, atau bukan tantangan itu yang harus dihilangkan supaya kita bertumbuh melainkan kita harus tetap bertumbuh sekalipun di tengah-tengan tantangan.

Bagaimana caranya agar iman kita tetap bertumbuh di tengah-tengah tantangan yang ada di dunia ini?

Sebenarnya manusia tidak bisa menumbuhkan iman, yang memberi pertumbuhan iman ialah Allah:             - Seperti benih yang di tabur dan tumbuh dengan sendirinya (Mrk.4:26-29)
            - Paulus berkata: Aku menanam, Apolos menyiram tetapi Tuhan memberi pertumbuhan.

Pertama, kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10:16). Apa artinya?
Pdt. B. Sirait: cerdik = tahu diri, tahu lawan/dunia, dan tahu cuma Tuhan yang dapat menolong kita, sehingga dengan tulus kita mengandalkan Tuhan, bukan memperalat Tuhan.

Kedua, kita harus menjadi tanah yang subur, yaitu mendengar firman dan menyambutnya, memahami, menyimpan dalam hati dan melakukannya (Matius 13:23),

Akhirnya melalui perumpamaan ini, kita diajak bercermin; siapakah kita ini sebenarnya?

Gandum atau lalang?     Domba di tengah serigala atau serigala berbulu domba?

Yang jelas, pada akhirnya nanti Yesus akan memisahkan gandum dengan lalang, atau domba dari antara serigala. Amin.

HR, gkb 20011118