Translate

Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

20181112

HATI-HATI, JANGAN TERKECOH!

Markus 12:38-44

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan." (Mrk. 12:43)

Sering terjadi bahwa manusia menilai sesamanya hanya berdasarkan penampilan luar saja. Akibatnya salah membuat penilaian dan menjadi tertipu. Sikap seperti itulah kiranya yang membuat seorang Kanjeng Dimas berhasil mengelabui banyak orang. Dengan bermodalkan penampilan sebagai guru agama yang saleh, Kanjeng Dimas berhasil menipu hingga miliaran rupiah.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus mengingatkan para murid agar berhati-hati dalam membuat penilaian. Jangan sampai terkecoh. Yesus memperingatkan bahwa ahli Taurat bisa mengelabui banyak orang dengan penampilannya dan dengan doa yang panjang, tetapi hidupnya penuh dengan tipu daya. Sebaliknya, kita juga diingatkan jangan sampai menilai rendah seseorang dari penampilannya saja. Seorang janda miskin ternyata dapat memberi persembahan jauh lebih banyak daripada orang-orang kaya, karena ia memberi semua yang dimilikinya, sedangkan orang kaya hanya sebagian kecil dari miliknya.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita agar berhati-hati dalam membuat penilaian. Jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja. Jangan menyanjung seseorang sedemikian rupa, sementara yang lain direndahkan. Hendaknya kita menghormati dan menghargai setiap orang sebagai manusia. Firman ini juga mengingatkan kita, agar jangan hanya menjaga dan mengutamakan penampilan luar. Yang terutama adalah hati yang jujur dan terarah kepada Tuhan. Sebab sesungguhnya, segala sesuatu yang kita pikirkan dan simpan di dalam hati, Tuhan mengetahuinya.

REFLEKSI: Manusia hanya melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

1Raj. 17:8-16; Mzm. 146; Ibr. 9:24-28; Mrk. 12:38-44

HR, Wasiat
Minggu, 11 November 2018

20181108

TAAT PADA FIRMAN TUHAN

Bilangan 36:1-13

Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat anak-anak perempuan Zelafehad. (Bil. 36:10)

Hukum dan peraturan dibuat untuk ditaati, bukan untuk dilanggar. Firman diberitakan untuk dilakukan, bukan hanya untuk didengar. Tetapi itulah persoalan kita. Kita sering melanggar hukum dan peraturan serta sering hanya mau mendengar firman tetapi tidak mau melakukannya.

Menarik untuk diperhatikan, apa yang dilakukan anak-anak perempuan Zelafehad, dari kaum bani Manasye keturunan Yusuf. Mereka mendapat warisan tanah pusaka dari ayahnya yang telah meninggal di padang gurun, karena ayahnya tidak memiliki anak laki-laki. Sebagai penerima pusaka, mereka tetap memperhatikan hukum dan peraturan yang difirmankan TUHAN melalui Musa agar setiap suku Israel menjaga tanah pusaka yang diberikan TUHAN kepada mereka turun-temurun. Agar pusaka itu terjaga dalam sukunya dan tidak beralih ke suku Israel yang lain, maka anak-anak perempuan Zelafehad menaati hukum dengan menikah dengan laki-laki dari kaum Manasye, keturunan Yusuf.

Firman hari ini mengingatkan kita, bahwa peraturan, hukum, dan firman yang diberikan Tuhan bukan sekadar untuk diketahui dan dipahami. Tuhan memberikan firman-Nya untuk ditaati. Menaati firman menuntut kesungguhan hati, penyangkalan diri, dan bahkan pengorbanan. Anak-anak perempuan Zelafehad telah melakukannya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah melakukannya?

REFLEKSI: Menaati firman Tuhan berarti menyangkal keinginan kita yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Mzm. 146; Bil. 36:1-13; Rm. 5:6-11


HR, Wasiat
Kamis, 8 November 2018

MENYADARI DOSA DAN MEMOHON PENGAMPUNAN

Mazmur 51

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. (Mzm. 51:5)

Mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah. Ketika mengakui kesalahan, kita justru diperlakukan tidak baik, direndahkan dan berbagai tindakan lain yang menyakiti dan melukai hati. Karena itu banyak orang memilih menyembunyikan kesalahannya.

Daud, ketika berbuat salah dan dosa, ia pun sedapat mungkin menyembunyikan kesalahan dan dosanya. Namun, Tuhan yang mengetahui segala sesuatu menegur Daud melalui nabi Natan. Melalui teguran nabi Natan, Daud kemudian jujur mengakui dan menyadari segala dosa serta kejahatannya kepada Tuhan, lalu memohon belas kasihan dan pengampunan Tuhan. Dalam doanya ia berkata, "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!" (ay. 3-4). Daud yakin ketika ia datang dengan hati yang hancur mengaku dosa dan memohon belas kasih Tuhan, maka Tuhan pasti mengampuni dosanya.

Sebagai manusia, kita tentu tidak luput dari kelemahan dan dosa. Namun, apakah kita menyadari kelemahan dan dosa kita? Tanpa kesadaran itu, kita tidak mungkin datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Kita bersyukur atas Roh Kudus yang senantiasa hadir dan memimpin kita dalam kebenaran. Bila kita jatuh dalam dosa, Ia akan menginsafkan kita akan dosa itu, sehingga kita akan melakukan pertobatan dan memohon pengampunan-Nya.

REFLEKSI: Pengampunan dosa terjadi ketika kita menyadari segala dosa, datang kepada Tuhan, dan mohon belas kasih-Nya.

Mzm. 51; Mi. 6:1-8; Yoh. 13:31-35


HR, Wasiat
Rabu, 7 November 2018

20181106

TUHAN MEMPERINGATKAN AGAR KITA SETIA

Ulangan 28:58—29:1


"Jika engkau tidak melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat … dan engkau tidak takut akan … TUHAN, Allahmu, maka TUHAN akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu, dan kepada keturunanmu …." (Ul. 28:58,59)

Setiap hari manusia selalu diperhadapkan kepada pilihan-pilihan. Mulai dari memilih hal yang sederhana seperti memilih baju, sampai memilih hal yang besar seperti pasangan hidup, atau iman yang akan menentukan arah hidup ke depan. Setiap pilihan yang diambil mengandung konsekuensi yang kelak akan dihadapi.

Sebelum umat Israel memasuki tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan, Musa memperhadapkan pilihan kepada umat Israel. Berkat Tuhan, apabila mereka tetap setia kepada Tuhan (ay. 1-14), namun sebaliknya kutuk, apabila mereka tidak setia dan meninggalkan Tuhan (ay. 15-46). Tuhan akan menghukum mereka dan keturunan mereka dengan hukuman yang berat; mereka akan diserang penyakit dan tulah yang dahsyat sehingga mereka hampir punah (ay. 60-63). Tuhan akan menyerakkan mereka ke antara segala bangsa dan hidup mereka akan sangat menderita di tengah-tengah bangsa lain (ay. 64-67). TUHAN akan membawa mereka kembali ke Mesir dan menjadi budak (ay. 68). Dengan peringatan ini, TUHAN melalui Musa memperingatkan dan menghendaki agar umat-Nya memilih tetap setia dan hidup menurut firman-Nya, agar berkat TUHAN selalu mereka alami.

Sebagai umat yang telah ditebus dari dosa dan maut, melalui firman hari ini, kita pun diingatkan agar kita memilih untuk tetap setia kepada Kristus dengan hidup melakukan firman-Nya.

REFLEKSI: Peringatan diberikan Tuhan kepada kita bukan supaya kita meninggalkan-Nya, tetapi supaya kita tetap setia kepada-Nya.

Mzm. 51; Ul. 28:58—29:1; Kis. 7:17-29


HR, Wasiat
Selasa, 6 November 2018

20181105

MENGALAHKAN KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Roma 12:17-21; 13:8-10


Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Rm. 12:21)

Pada umumnya, manusia cenderung untuk membalas kejahatan yang dilakukan kepadanya. Namun, disadari atau tidak, membalas kejahatan dapat berakibat melakukan kejahatan yang serupa, bahkan mungkin kejahatan yang lebih besar lagi. Perlu disadari bahwa melawan atau membalas kejahatan dengan kejahatan alih-alih menghentikan kejahatan, justru akan melanggengkan kejahatan. Lalu bagaimana caranya mengalahkan kejahatan?

Melalui bacaan hari ini, Paulus mengajarkan kita untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Paulus mengajarkan untuk berbuat baik kepada semua orang, juga kepada orang-orang yang menyakiti kita. Bila perlu memberi makan dan minum kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. Paulus juga mengajarkan untuk tidak menuntut balas atas kejahatan yang orang lain perbuat kepada kita, sebab pembalasan adalah hak Tuhan. Bagian kita adalah mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri, seperti yang diperintahkan Tuhan dalam Taurat-Nya.

Tidak mudah memang untuk mengasihi orang yang berbuat jahat kepada kita. Namun, bila kita membalas kejahatan orang yang berbuat jahat kepada kita dengan berbuat hal yang sama, maka kejahatan akan semakin besar dan merajalela di dunia ini. Yesus datang ke dunia untuk memberi teladan bagaimana mengatasi kejahatan dan mengasihi orang yang berbuat jahat kepada kita. Ia mengajarkan kita untuk mengampuni melalui doa-Nya, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk. 23:34).

REFLEKSI: Kejahatan akan merajalela jika dibalas dengan kejahatan, tetapi kejahatan akan berhenti bila dibalas dengan kebaikan.

Mzm. 51; Ul. 6:10-25; Rm. 12:17-21; 13:8-10


HR, Wasiat
Senin, 05.11.2018


MENYANGKAL KELEMAHAN MENUAI KEGAGALAN

Markus 14:28-34


… "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." (Mrk. 14:31)

Umumnya, orang berusaha menutupi kelemahannya dengan berbagai cara karena khawatir dan takut apabila orang mengetahui kelemahannya, maka ia tidak akan diterima, atau bahkan akan ditolak.

Mungkin hal itu juga yang ada di benak Petrus, ketika Yesus menyatakan kepadanya bahwa ia tidak sehebat yang ia kira. Ia memiliki kelemahan dalam mengikut Yesus, yaitu bahwa ia akan menyangkal Yesus di depan banyak orang. Mendengar kelemahannya diketahui dan diungkapkan oleh Yesus, Petrus spontan menutupi kelemahannya dengan mengatakan bahwa hal itu tidak akan terjadi. Ia rela mati demi Yesus. Kenyataannya, Injil mencatat, Petrus gagal menunjukkan kesetiaannya. Petrus menyangkal Yesus. Ketika Yesus memberitahu kelemahan Petrus, Yesus tidak sedang mempermalukan Petrus di depan murid-murid yang lain, melainkan untuk memperingatkan Petrus agar berhati-hati dan berjaga-jaga serta berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan dan penyangkalan terhadap gurunya.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mengetahui keadaan kita. Tuhan mengetahui bahwa kita adalah manusia yang lemah, tidak luput dari kesalahan dan dosa. Kendati demikian, Tuhan tetap mengasihi kita. Ia ingin kita selalu berjaga-jaga dan berdoa kepada Bapa agar dalam menjalani kehidupan kita dimampukan mengatasi kelemahan kita, sehingga kita dapat tetap setia mengikut Dia. Marilah kita jujur di hadapan Tuhan mengakui segala kelemahan kita.

REFLEKSI: Jujur menerima dan mengakui kelemahan berarti membuka diri untuk dipulihkan dan dikuatkan.

Ul. 6:1-9; Mzm. 119:1-8; Ibr. 9:11-14; Mrk. 12:28-34


HR, Wasiat
Minggu, 04.11.2018

MENGASIHI DENGAN PERBUATAN

Lukas 10:25-37


Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." (Luk. 10:28)

Mengetahui banyak hal tentang ajaran agama ternyata bukan jaminan seseorang menjalani hidup yang baik atau berperilaku baik. Sebagai contoh, Dimas Kanjeng dan beberapa tokoh agama lainnya ditangkap oleh polisi karena melakukan penipuan dan kejahatan lainnya di tengah masyarakat. Mereka tahu yang baik tetapi mereka tidak melakukannya.

Dalam perikop hari ini, kita menjumpai seorang ahli Taurat, seorang tokoh agama. Ia datang kepada Yesus bukan dengan maksud baik, melainkan untuk mencobai Yesus melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya dan untuk membenarkan dirinya.

Melalui sebuah perumpamaan, Yesus menjawab dan menjelaskan bahwa mengasihi Tuhan dan sesama bukanlah sekadar teori atau pengetahuan untuk memuaskan keingintahuan. Mengasihi adalah perintah untuk dilakukan dalam hidup sehari-hari. Dalam hidup ini, janganlah seperti imam dan orang Lewi yang pandai berteori dan berkhotbah tentang kasih tapi tidak berbuat kasih. Jadilah seperti orang Samaria, yang sekalipun minim pengetahuan tentang kasih, tetapi berbuat kasih. Yesus mengakhiri penjelasan-Nya dengan berkata, "… pergilah dan perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup" (ay. 28, 37).

Sebagai pengikut Yesus, kita tentu tahu dan hafal yang namanya Hukum Kasih, tetapi sudahkah kita berbuat kasih? Sudahkah sesama di sekitar kita merasakan buah-buah kasih yang kita perbuat?

REFLEKSI: Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah firman untuk dipraktikkan bukan hanya untuk dihafalkan.

Mzm. 119:1-8; Bil. 9:9-14; Luk. 10:25-37


HR,  Renungan Wasiat
Sabtu, 03.11.2018


HIDUP KUDUS SEBAGAI UMAT TUHAN

Imamat 19:32-37


"Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu; Akulah TUHAN." (Im. 19:37)

"Kristen KTP" adalah sindiran yang ditujukan kepada orang-orang yang mengaku diri Kristen namun hidupnya tidak sesuai dengan ajaran Yesus.

TUHAN menghendaki Israel tidak sekadar mengaku diri sebagai umat-Nya, namun hidup tak ubahnya seperti bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal TUHAN. Oleh karena itu, TUHAN berfirman melalui Musa agar umat Israel hidup di dalam kekudusan, yaitu dengan berpegang pada segala ketetapan dan segala peraturan yang TUHAN firmankan serta melakukannya (ay. 37). Di antara semua ketetapan dan peraturan untuk hidup kudus itu, pada bagian ini, umat diingatkan untuk hormat kepada orang yang usianya lebih tua, mengasihi sesama - siapa pun mereka, bahkan orang asing sekalipun - seperti mengasihi diri sendiri, serta berlaku adil dan tidak mencurangi orang lain. Semua perintah ini ditutup dengan perkataan, "Akulah TUHAN." Pernyataan "Akulah TUHAN" diberikan supaya umat menyadari bahwa hidup kudus, hidup berbeda dengan bangsa-bangsa lain adalah hal yang dikehendaki oleh TUHAN sendiri bagi umat Israel, yang telah dibebaskan-Nya dari tanah Mesir. Firman-Nya, "… Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus" (ay. 2).

Kita adalah umat Perjanjian Baru. Kita telah ditebus oleh Kristus dari dosa kepada hidup yang penuh pengharapan. Oleh karena itu, hendaklah kita hidup di dalam kekudusan seperti yang telah diteladankan Yesus.

REFLEKSI: Hidup kudus adalah hidup seperti Kristus, yaitu hidup untuk menaati dan melakukan kehendak Bapa.

Mzm. 119:1-8; Im. 19:32-37; Rm. 3:21-31


HR, Renungan WASIAT, 02.11.2018

HIDUP MENURUT FIRMAN TUHAN

Mazmur 119:1-8

Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. (Mzm. 119:1)

Kebahagiaan adalah hal yang paling dicari orang di dalam hidup ini. Orang bekerja keras dan rela melakukan apa saja demi mendapatkan kebahagiaan, sekalipun kebahagiaan itu hanya sementara dan semu.

Melalui mazmur ini, pemazmur mengatakan bagaimana cara memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya; kebahagiaan yang sejati. Menurut pemazmur, orang yang berbahagia adalah orang yang hidup menurut Taurat Tuhan. Hidup menurut Taurat Tuhan berarti tidak hanya mendengar, merenungkan, dan memahami Taurat tetapi menaati, melakukan dan menghidupi Taurat Tuhan dalam keseharian hidup. Hidup menurut Taurat Tuhan berarti hidup menurut peringatan-peringatan, jalan-jalan, titah-titah, ketetapan-ketetapan, perintah-perintah, dan hukum-hukum Tuhan. Dengan hidup menurut Taurat Tuhan, hidup umat menjadi tidak bercela, tidak melakukan kejahatan, tidak akan mendapat malu. Hidup menurut Taurat Tuhan juga berarti gemar mencari Tuhan dan kehendak-Nya dengan segenap hati, bersyukur dengan jujur, dan percaya tidak akan ditinggalkan sendirian oleh Tuhan menjalani hidup. Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya yang akan terus kita rasakan di dalam dan bersama Tuhan.

Sebagai umat percaya, kita tentu sering mendengar, merenung, dan belajar memahami firman Tuhan. Hari ini kita diingatkan, jika kita ingin memiliki kebahagiaan sejati, kita perlu hidup menurut firman Tuhan. Jangan hanya menjadi pendengar saja!

REFLEKSI: Mendengar dan melakukan firman Tuhan adalah seperti membangun rumah di atas batu karang yang teguh.

Mzm. 119:1-8; Kel. 22:1-15; Ibr. 9:1-12


HR, renungan Wasiat, 01.11.2018

20181102

YANG TERUTAMA DARI YANG UTAMA

Ulangan 6:1-9


"Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini
Bukan karna kuat dan hebatku
Semua karena cinta, semua karena cinta..."
Lirik lagu ini - "Semua karena Cinta" -  menyatakan betapa hebatnya cinta; kita ada, kita bertahan, kita tegar dan kita berkarya, semua karena cinta. Cinta mendasari kita melakukan sesuatu dan cinta jugalah yang mendorong orang lain melakukan sesuatu kepada kita. Bila kita memiliki cinta dan  dipenuhi cinta maka kita akan  terdorong melakukan segala sesuatu yang baik bagi yang  kita cintai. 

Relasi antara umat dengan Allah adalah relasi yang dilandasi oleh Cinta. Allah mencintai umat-Nya dengan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan umat menunjukan cintanya kepada Allah dengan hidup setia dan taat pada perintah-Nya. Inilah yang diperintahkan Musa kepada umat Israel bahwa sebagai umat  yang telah dibebaskan Allah maka yang terutama harus dilakukan adalah mengenal dan mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Hal ini nyata dari apa yang dikatakannya, "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 
 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu"(4,5). 
Dan Musa mengingatkan bahwa pengenalan serta kecintaan akan Tuhan ini harus  diperkenalkan dan diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak, sebagai generasi penerus dalam segala waktu, tempat dan kesempatan. 
Sehingga dengan pengenalan dan  cinta akan Tuhan umat akan bersikap takut/hormat pada TUHAN, berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya dengan setia seumur hidup di negeri yang TUHAN janjikan(2,3). 

Bercermin dari firman ini, sebagai pengikut Kristus kita diingatkan bahwa Allah di dalam Kristus telah menunjukan cinta-Nya kepada kita dengan mati disalib untuk menebus kita dari segala dosa. Karena itu sebagai umat yang begitu dicintai-Nya sudahkah kita juga mencintai-Nya dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akalbudi?
Adakah sikap takut/hormat kepada TUHAN kita tunjukan Ketika kita beribadah di Rumah-Nya?  Atau adakah kecintaan kita kepada TUHAN nyata dengan melakukan perintah-perintah-Nya? 

Saudara/i ingatlah,  karena  Cinta-Nya kita ada dan selamat, karena itu hal yang terutama dalam hidup kita adalah kita hidup untuk mencintai-Nya.


HR, renungan warta gkb, 04.11.2018 

20150918

Perselingkuhan

2 Samuel 11: 1-4; Matius 5:27-28


Saudara, minggu ini kita merenungkan firman Tuhan yang membahas tentang kejatuhan raja Daud dalam dosa  'perselingkuhan'. Kata selingkuh menurut kamus bahasa Indonesia adalah:1 suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng. 
Dari pengertian ini, berarti selingkuh tidak hanya berarti adanya PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL (Wanita Idaman Lain) dalam kehidupan rumah tangga, tetapi juga dosa-dosa dalam bentuk lainnya yang intinya adalah ketidakjujuran untuk kepentingan diri sendiri.

Namun demikian, renungan kita minggu ini secara khusus membahas perselingkuhan dalam kehidupan rumah tangga. Daud jatuh dalam dosa perselingkuhan bahkan perjinahan dimulai dari hal yang sederhana yaitu melihat (ay 2), tapi kemudian ia mengingini (milik orang lain) yang dilihatnya dan akhirnya ia melakukan apa yang diingininya, yaitu Daud tidur dengan Batsyeba (ay 3, 4). Untuk menutupi dosa perselingkuhannya, Daud melakukan dosa yang lain dengan membunuh Uria, suami Batsyeba, dengan cara yang licik dan kejam dengan membiarkannya terbunuh di medan perang (ay 6-21). Akibat dari dosa perselingkuhan Daud dengan Batsyeba ini, maka Tuhan menghukumnya dengan segala peristiwa yang terjadi dalam kerajaannya (lihat pasal-pasal berikutnya), karena..... hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN (ay 27)

Saudara, dari kisah ini kita diingatkan, jika Daud seorang raja pilihan Tuhan saja bisa jatuh dalam dosa perselingkuhan dan perjinahan, demikian juga dengan kita, kita pun bisa jatuh dalam dosa yang sama jika kita tidak berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Marilah kita memohon kepada Tuhan, agar Tuhan melindungi kita dari dosa yang satu ini, dan apabila kita telah jatuh marilah kita bertobat, mohon ampun pada Tuhan, dan memulai hidup yang baru bersama Tuhan. Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati kita. Amin!


HR, renungan warta gk bogor 19.09.2015

20090507

IBADAH YANG MEMBANGKITKAN INSPIRASI

Bila 'ku lihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh 'ku dengar.
Ya Tuhanku tak putus aku heran, melihat ciptaan-Mu yang besar.

Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku !
Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku !




Bila kita memerhatikan syair lagu di atas tampak jelas bahwa pengarang atau pencipta lagu "Sungguh Besar Allahku" (How Great Thou Art) terinspirasi oleh alam; ketika melihat bintang-bintang, dan mendengar bunyi guruh atau petir yang dasyat dan tentunya juga oleh bentuk-bentuk alam yang lainnya, semua itu memberi inspirasi kepada pengarang untuk memuji dan membesarkan TUHAN Sang Pencipta alam semesta.

Alam telah memberi banyak inspirasi kepada manusia. Burung-burung telah memberi inspirasi kepada manusia untuk menciptakan pesawat terbang bahkan pesawat ruang angkasa. Ikan-ikan telah memberi inspirasi kepada manusia untuk menciptakan kapal selam, petir telah menginspirasi untuk menciptakan lampu listrik dan lain sebagainya.

Sebenarnya segala sesuatu dalam kehidupan ini dapat memberi inspirasi kepada manusia baik yang bersifat positif maupun negatif. Pelayanan di Hotel berbintang, misalnya, atau restoran mewah dengan para pelayan yang ramah, berseragam rapi dan bersih serta sangat dan terampil dalam melayani memberi inspirasi kepada kita untuk siap membayar mahal. Sebaliknya pelayanan di sebuah penginapan sederhana atau losmen atau rumah makan tenda dengan pelayanan seadanya, bising, panas dan berdebu juga memberi inspirasi kepada kita untuk membayar jauh lebih murah semua pelayanannya. Bahkan sebenarnya hidup kita pun dapat memberi inspirasi kepada sesama di sekitar kita, melalui pemikiran, perkataan dan terlebih perbuatan kita. Orang lain dapat terinspirasi oleh kita baik hal positif maupun negatif.

Jika segala sesuatu dapat memberi inspirasi bagi kita lalu bagaimana dengan ibadah kita kepada Tuhan ? Apakah ibadah yang kita lakukan juga telah memberi atau membangkitkan inspirasi kepada kita dan sesama ?

Ibadah memang mempunyai pengertian yang sangat luas karena ibadah menyangkut seluruh kehidupan kita. Namun dalam hal ini kita batasi dulu pada pengertian ibadah dalam arti seremonial seperti kebaktian minggu dan kebaktian-kebaktian lainnya di gereja.

Banyak orang yang datang ke gereja untuk beribadah dan pulang dengan perasaan yang 'hampa' sama seperti ketika ia datang. Mengapa ? Mungkin karena ibadah yang berlangsung terasa 'kering', 'gersang' tidak membangkitkan inspirasi yang positif untuk dilakukan. Hal ini dapat disebabkan dua hal, yaitu:

Pertama, bisa karena orang yang datang beribadah ke gereja tidak mempersiapkan hati dan seluruh dirinya untuk beribadah, yaitu untuk mengabdi dengan menyenangkan Tuhan dalam seluruh rangkaian peribadahan yang berlangsung. Seharusnya setiap orang yang datang beribadah adalah untuk memberi diri, untuk mengabdi, dan untuk melayani Tuhan bukan untuk menerima, diabdi atau dilayani. Beribadah adalah untuk menyenangkan Tuhan bukan untuk kesenangan diri sendiri. Jika kita datang beribadah tidak dengan kesiapan hati seperti ini maka bisa jadi kita akan merasa hampa dan bahkan kecewa dalam beribadah.

Kedua, mungkin karena para penata layan yang bertugas dalam ibadah itu kurang mempersiapkannya dengan baik sehingga ibadah yang berlangsung terkesan 'asal' jalan. Hal ini dapat disebabkan karena para penatalayan tidak memahami dengan benar bahwa mereka sedang mengemban tugas yang sangat penting dan mulia yaitu melayani ALLAH Sang Pencipta Alam Semesta yang menghendaki ketertiban dan keteratuan (Kejadian 1). Betapa pun kecil dan sederhananya tugas pelayanan yang diberikan semua itu harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya karena merupakan kepercayaan dari Tuhan Semesta Alam. Tidak kalah penting dalam mempersiapkan ibadah adalah penataan ruang yang nyaman sehingga terhindar dari kebisingan dan panas (gerah) yang dapat mengganggu kekhidmatan ibadah, juga penataan dan perlengkapan soundsystem serta audiovisual yang baik bebas dari segala gangguan yang mungkin terjadi.

Jika setiap orang telah mempersiapkan hati untuk beribadah dan segenap penatalayan telah mempersiapan diri dengan sebaik-baiknya untuk melakukan tugasnya dengan segala perlengkapan yang mendukung maka ibadah yang berlangsung akan membangkitkan inspirasi bagi setiap orang yang ada di dalamnya. Setiap orang akan terkesan (baca: terinspirasi) bahwa ibadah itu bukan 'asal' jalan, penatalayan yang bertugas dengan seragam dan atribut penatalayan bukan sembarang orang yang tanpa dipersiapan tetapi benar-benar orang yang dipilih dan dipersiapkan (baca: dibina) sesuai dengan talenta dan karunianya sehingga kompeten di bidang pelayanannya.

Ibadah yang dipersiapkan dengan baik akan membangkitkan inspirasi bagi setiap orang yang datang beribadah. Orang yang memiliki rasa dendam, misalnya, ketika mendengar khotbah tentang pengampunan akan terinspirasi untuk mengampuni, orang yang malas untuk menyanyi ketika mendengar paduan suara, prokantor serta iringan musik yang indah terinspirasi untuk menyanyi dengan sungguh-sungguh baik dan benar, orang yang semula menyepelekan tugas-tugas yang dianggapnya kecil dan rendah ketika melihat pelayanan tim kolektan yang terampil dan teratur rapih dalam pelayanannya terinspirasi untuk melakukan tugas sekecil apapun dengan baik dan penuh tanggung jawab. Demikian juga orang akan terinspirasi untuk bersikap ramah dan hangat karena melihat pelayanan tim penyambutan yang berlaku demikian. Dan setiap orang yang hadir akan saling menginspirasi sesamanya untuk melakukan segala yang baik dan benar dalam rangka beribadah, mengabdi kepada Tuhan dalam hidupnya baik dalam ibadah seremonial maupun dalam ibadah kehidupan sehari-hari.

Semoga ibadah kita adalah ibadah yang membangkitkan inspirasi bagi segenap jemaat dan semoga hidup kita masing-masing juga memberi inspirasi kepada sesama untuk melukan segala yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Dan semoga TUHAN berkenan dengan ibadah kita !

#Handri Rusli@Bulletin GKB, 05022008.#

20090402

Hidup Cerminan Pengakuan Iman

Roma 10:4-21

Setiap orang menjalani hidup menurut apa yang diyakininya “baik” dan “benar”. Hal ini dapat terlihat melalui kehidupan di sekitar kita. Misalnya ada orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan sangat keras, mengapa? Karena cara itulah yang ia yakini baik dan benar untuk anak-anaknya dikemudian hari. Demikian juga dengan orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan lembut dan pengertian, karena keyakinan yg sama. Bahkan apa yang dilakukan para teroris dengan bom bunuh diri adalah tidak terlepas dengan apa yang mereka yakini sebagai “baik” dan “benar” itu.

Dengan memahami ini kita jadi dapat mengerti mengapa umat beragama “A” berperilaku begini dan umat beragama “B” berperilaku begitu, yaitu karena apa yang mereka yakini sebagai “baik” dan “benar”. Karena itu, dalam hal-hal tertentu, kita dapat dengan mudah membedakan orang-orang menurut keyakinannya, misal mana yang beragama A, B, atau C melalui apa yang mereka perbuat

Hal inlah yang Rasul Paulus ceritakan di Roma 10:1-21. Rasul Paulus sangat menginginkan agar bangsanya, umat Yahudi, diselamatkan karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya (ay. 1). Tapi hal ini tidak mudah karena orang-orang Yahudi meyakini, mengimani bahwa keselamatan itu adalah karena mentaati Hukum Taurat bukan karena percaya pada Yesus. Dan itulah sebabnya mereka begitu giat melakukan amal perbuatan sesuai Taurat (ay.2) sebagai wujud keyakinan bahwa itulah cara mendapatkan keselamatan yang benar.

Jika orang Yahudi begitu giat hidup mencerminkan keyakinannya dengan ketaatan penuh pada Hukum Taurat, Bagaimana dengan kita yang meyakini bahwa keselamatan adalah karena iman kepada Yesus? Menurut Rasul Paulus, percaya/iman bukan saja masalah hati tetapi juga soal mengaku dengan mulut (ay. 10) dan bahkan nyata juga dalam segala tindakan (Yakobus 2:18, 20, 26). Jadi sebagai orang-orang yang telah diselamatkan karena iman kepada Yesus, seharusnya hati kita penuh sukacita, mulut kita penuh dengan ungkapan syukur dan pujian dan tindakan kita penuh dengan kasih dan pengampunan, karena kita telah dikasihi dan diampuni oleh Tuhan.

Dengan demikian hidup kita menjadi cerminan iman kita. Semoga Tuhan menolong kita. (HR, 05042009)

20090311

LEBIH BERBAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA

-=Handri Rusli=-

Kisah Para Rasul 20:35

· Mendengar tema ini, mungkin kita jadi bertanya: “Apa betul lebih berbahagia memberi daripada menerima?” Apa bukan sebaliknya?! Karena ketika kita memberi berarti kita kehilangan sesuatu, sedangkan jika menerima berarti kita mendapatkan sesuatu.

· Nah kalau begitu mana yang bisa membuat bahagia? Menerima, yang berarti mendapatkan sesuatu yang baik dan berharga atau memberi, yang berarti kehilangan sesuatu yang baik dan berharga?

· Menurut konsep dunia pasti lebih berbahagia MENERIMA! Tetapi Firman Tuhan mengatakan justru “Lebih berbahagia memberi daripada menerima”. Mengapa? Dan pemberian yang bagaimanakah yang bisa membuat kita berbahagia itu?

Pembahasan isi
· Nats pembacaan kita ini, diungkapkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Selama kurang-lebih 3 tahun Paulus melayani di sana.

· Paulus melihat bahwa jemaat di Efesus memiliki kehidupan yang baik secara ekonomi, namun mereka kurang peduli dalam mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan

· Memang untuk pelayanan Paulus sendiri di Efesus, ia bisa membiayai sendiri pelayanan itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa jemaat Efesus tidak perlu mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan. Karena ada banyak pelayanan pekerjaan Tuhan yang membutuhkan dukungan mereka.

· Karena itu Paulus menasihati jemaat agar mereka jangan hanya hidup untuk diri mereka sendiri saja, tetapi mereka harus belajar memberi untuk pekerjaan Tuhan dan untuk sesama yang membutuhkan pertolongan. Menurut Paulus di situlah justru letaknya KEBAHAGIAAN bagi orang percaya. Jadi kebahagiaan orang percaya bukan diperoleh hanya dengan mengumpulkan dan menerima, serta hidup hanya untuk diri sendiri. Tetapi justru ketika jemaat MEMBERI.

· Itulah sebabnya Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus, yang berkata: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Pendalaman
· MEMBERI yang bagaimana, yang dapat membuat kita berbahagia/bersukacita (2 Kor.9:7)?

· Agar kita BERBAHAGIA dalam MEMBERI, maka kita harus memiliki konsep dan motivasi yang benar dalam memberi.

· Konsep yang benar dalam memberi adalah dengan mencontoh Allah yang memberi. Dalam hubungnan luar negeri kita mengenal istilah negara donor dan negara penerima. Allah adalah satu-satunya PENDONOR/PEMBERI yang mutlak dan manusia, sampai kapan pun, bahkan sampai akhir zaman adalah PENERIMA. Jadi MEMBERI adalah sifat ilahi.

· Jadi kalau manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk MEMBERI, hal itu bererti suatu kehormatan dan kemuliaan karena itu seharusnya kita BERBAHAGIA dalam memberi. Karena ketika MEMBERI dengan motivasi yang benar berarti manusia menjadi gambar dan teladan Allah. Itulah sebabnya melalui PEMBERIAN yang dilakukan orang percaya, dunia akan melihat kemurahan dan kasih Allah kepada dunia ini.

· PEMBERIAN yang bagaimana yang Allah lakukan?

· Pertama, Allah MEMBERI bukan untuk mengikat/mengendalikan tetapi untuk membangun manusia. Allah memberi hidup, kesempatan dsb. Dan pemberian yang terbesar adalah Yesus Kristus, untuk menyelamatkan dan mengembalikan manusia kepada citra Allah.

· Ini berbeda dengan pemberian manusia; manusai memberi biasanya untuk mengikat. Misalnya: Pemberian waktu pertunangan adalah untuk mengikat wanita agar ia tidak lagi menjalin kasih dengan laki-laki lain. Atau dalam diakonia: memberi beasiswa tapi anak itu harus mengikuti yang kita mau; ia harus begini dan begitu.

· Pemberian seperti ini tidak membawa kebahagiaan karena pemberian seperti ini akan selalu diikuti kecemasan, kekuatiran dan ketakutan, yaitu takut kalau yang diberi tidak mengikuti apa yang kita mau; takut kalau pemberian itu tidak mampu mengikat dia dsb. Akhirnya kita bisa menjadi kecewa, marah, dan mengumpat bahkan segala macam yang buruk akan terlontar kepada orang itu.

· Kedua, Allah memberi bukan untuk mendapatkan sesuatu tetapi karena KASIH semata. Allah memberi bukan supaya manusia memberi kepada-Nya, Allah mengasihi bukan supaya manusia mengasihi-nya. Karena jika itu motivasi Allah dalam memberi dan mengasihi manusia maka Allah pasti akan kecewa, manusai tidak pernah betul-betul memberi dan mengasihi Allah. Allah tidak pernah kekurangan sesuatu dari manusia.

· Demikian juga dengan kita, kalau kita memberi maka kita harus memberi bukan untuk mendapatkan sesuatu tetapi karena kita mengasihi dan bersyukur.

· Untuk dapat memberi tanpa mengharapkan sesuatu, maka
- kita harus memberi dengan suka dan rela bukan dengan duka dan paksa (2 kor. 9:7)
- memberi berdasarkan apa yang ada pada kita (berkat yang telah kita terima) bukan berdasarkan apa yang tidak ada (yang diinginkan) jadi harus sebagai ungkapan syukur, bukan seperti pasang lotre.
- Misal: memberi ‘cepek’ supaya dapat ‘cetiaw’
- Memberi seperti ini tidak membawa bahagia tapi kecewa.

· Ketiga, PEMBERIAN Allah adalah pemberian yang relasional. Ia bukan hanya memberi sesuatu kepada manusia tetapi Ia memberi Diri-Nya sendiri bagi manusia. Ia menjadi manusia dan Ia mau repot dengan manusia. Pemberian-Nya tidak menggantikan relasinya dengan manusia.

· Banyak orang memberi, tapi tidak mau menjalin relasi dengan yang diberi karena takut direpotkan. Misal: Suami yang mencukupi kebutuhan keluarga tapi tidak memberi waktu untuk istri dan anaknya. Demikian juga dengan sesama yang lain.

· Hal ini tidak akan membawa kebahagiaan. Karena Memberi dengan menjalin relasilah yang akan membawa kebahagiaan. Contoh: Seseorang yang telibat dalam urusan diakoni mengaku: “berbahagia ketika berbicara dan mendengar ungkapan syukur dari orang-orang yang dibantu olehnya.

· Untuk apa dan kepada siapa kita memberi?

· Kita memberi untuk pelayanan pekerjaan Tuhan di dunia ini (Maleakhi 3:10, 1 Taw. 29:14) (Kasihilah Tuhan,...)

· Untuk sesama manusia yang membutuhkan pertolongan (kasihilah sesamamu manusia...)

· Agar kita dapat memberi dengan tepat, maka kita harus tahu apa yang menjadi kebutuhan pelayanan dan sesama kita yang menderita:
- sudahkah kita peka terhdap pelayanan diakonia di gereja ini: pelayanan pendidikan, kesehatan, panti jompo, gelandangan, fakir miskin, korban bencana alam, sosial ekonomi dsb.
- Sudahkah kita peka terhadap kebutuhan sesama di sekitar kita yang tidak terjangkau pelayanan gereja?
- Mungkin mereka keluarga kita, saudara kita, tetangga kita atau kenalan kita atau siapa pun mereka.

· Marilah kita MEMBERI, pertama-tama: diri kita, waktu kita, perhatian kita dsb. Kemudian kita melakukan sesuatu bagi mereka.
· Marilah kita memberi sebagaimana Allah telah memberi maka kita akan merasakan bahwa memang benar Firman Tuhan yang mengatakan: “Lebih berbahagia memberi dari pada menerima”

Kiranya Firman Tuhan menjadi berkat bagi kita dan menjadi kemuliaan bagi Tuhan. AMIN.