Translate

20090409

DITEBUS UNTUK MENJADI BERKAT

Galatia 3:11-14


Dibenarkan karena melakukan hukum Taurat atau dibenarkan karena iman?
Inilah tema yang diangkat oleh Rasul Paulus dalam teks bacaan kita. Menurut Rasul Paulus prinsip Injil dan prinsip Taurat jelas berbeda. Dasar Taurat bukanlah iman tetapi perbuatan, yaitu siapa yang melakukannya akan hidup karenanya. Persoalannya adalah: apakah ada orang yang dapat melakukan seluruh perintah hukum Taurat dengan sempurna tanpa cacat sehingga ia didapati benar di hadapan Allah? Atau adakah orang didapati benar di hadapan Allah karena perbuatan-perbuatannya? Jawabnya sudah jelas, tidak seorangpun. Itulah sebabnya dikatakan bahwa setiap orang yang hidup di bawah hukum Taurat berada di bawah kutuk, karena di bawah hukum Taurat tidak mungkin seorangpun dapat selamat.

Jika demikian, memang tidak seorang pun dapat selamat dan dibenarkan di hadapan Allah karena perbuatannya, kecuali orang itu dibenarkan karena percaya, karena imannya kepada Kristus. Itulah prinsip Injil yang berbeda dengan prinsip Taurat. Di dalam Injil segala kelemahan dan ketidakberdayaan manusia memenuhi tuntutan Taurat telah digenapi oleh Kristus. Kutuk hukum Taurat telah dibebaskan oleh Kristus di atas kayu salib. Hutang dosa manusia karena kegagalannya memenuhi Taurat telah dibayar lunas di atas salib. Sehingga di dalam Kristus kita dibenarkan bukan karena perbuatan kita tetapi karana percaya kepada-Nya. Kita diselamatkan karena iman.

Diselamatkan dan  dibenarkan di hadapan Allah karena iman kepada Kristus, inilah yang harus kita wartakan kepada setiap orang, karana masih banyak orang menyangka bahwa mereka dapat diselamatkan dan dibenarkan dihadapan Allah karena perbutan-perbutannya, amal baiknya, jasa-jasanya dlsb.  Mungkin mereka yang menganggap demikian adalah anggota keluarga kita, teman dekat atau tetangga kita, sudahkah kita membawa warta selamat ini kepada mereka melalui kesaksian hidup sehari-hari? Sehingga kita yang telah diselamatan karena iman kita dapat menjadi berkat  bagi orang-orang di sekitar kita. 

(handri r.)

PERCAYALAH


(Yohanes 20:24-29)

Adalah tidak mudah memercayai sesuatu yang tidak masuk akal. Orang mati bangkit lagi, apa benar? Mana buktinya? "Sebelum saya melihatnya sendiri, memegangnya dan merabanya dengan tangan sendiri, saya tidak akan percaya!" Itulah kira-kira reaksi kita ketika mendengar berita ada orang yang bangkit dari kematian.

Sikap menutut bukti sebelum percaya adalah manusiawi dan wajar sebagai makhluk yang berpikir atau makhluk rasional. Dan sikap seperti ini adalah sikap kebanyakan orang pada umumnya. 2000 tahun yang lalu, Tomas seorang murid Yesus mewakili sikap kita ketika ia mendengar dari murid-murid yang lain bahwa Yesus bangkit dari kematian. Ia menutut bukti, dan mewakili kita ia berkata demikian, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Aku harus membuktikannya sendiri, baru aku percaya!

Seminggu kemudian, Yesus menampakan diri kepada Tomas bersama murid-murid yang lain. Yesus menyuruh Tomas membuktikan sendiri kebangkitan-Nya dengan  melihat-Nya, meraba-Nya dan mencucukkan jarinya ke luka bekas paku dan tombak pada tubuh-Nya. Dan Yesus berkata, "... jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah".

Meragukan kebangkitan Yesus adalah wajar dan manusiawi, namun di atas segala keraguan kita yang diwakili oleh Tomas, Yesus menginginkan kita percaya bahwa Ia benar-benar bangkit dari kematian, dan Ia benar-benar hidup dan Ia hidup untuk kita. Melalui percakapan-Nya dengan Tomas, Yesus mengingatkan kita bahwa iman (percaya) yang rasional dengan meminta bukti adalah wajar tetapi lebih dari itu Yesus menginginkan kita untuk memiliki iman yang melampaui akal/rasio kita, yaitu percaya sekalipun tidak melihat. Iman seperti inilah yang Yesus katakan berbahagia, karena iman seperti ini tidak akan goyah dengan apa pun juga, baik dengan bukti mau pun tanpa bukti.

Selamat Paskah, dan Percayalah bahwa Yesus bangkit dan hidup, Ia hidup untuk kita!

(Handri R. - renungan Paskah, 12042009)