Translate

20181108

TAAT PADA FIRMAN TUHAN

Bilangan 36:1-13

Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat anak-anak perempuan Zelafehad. (Bil. 36:10)

Hukum dan peraturan dibuat untuk ditaati, bukan untuk dilanggar. Firman diberitakan untuk dilakukan, bukan hanya untuk didengar. Tetapi itulah persoalan kita. Kita sering melanggar hukum dan peraturan serta sering hanya mau mendengar firman tetapi tidak mau melakukannya.

Menarik untuk diperhatikan, apa yang dilakukan anak-anak perempuan Zelafehad, dari kaum bani Manasye keturunan Yusuf. Mereka mendapat warisan tanah pusaka dari ayahnya yang telah meninggal di padang gurun, karena ayahnya tidak memiliki anak laki-laki. Sebagai penerima pusaka, mereka tetap memperhatikan hukum dan peraturan yang difirmankan TUHAN melalui Musa agar setiap suku Israel menjaga tanah pusaka yang diberikan TUHAN kepada mereka turun-temurun. Agar pusaka itu terjaga dalam sukunya dan tidak beralih ke suku Israel yang lain, maka anak-anak perempuan Zelafehad menaati hukum dengan menikah dengan laki-laki dari kaum Manasye, keturunan Yusuf.

Firman hari ini mengingatkan kita, bahwa peraturan, hukum, dan firman yang diberikan Tuhan bukan sekadar untuk diketahui dan dipahami. Tuhan memberikan firman-Nya untuk ditaati. Menaati firman menuntut kesungguhan hati, penyangkalan diri, dan bahkan pengorbanan. Anak-anak perempuan Zelafehad telah melakukannya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah melakukannya?

REFLEKSI: Menaati firman Tuhan berarti menyangkal keinginan kita yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Mzm. 146; Bil. 36:1-13; Rm. 5:6-11


HR, Wasiat
Kamis, 8 November 2018

MENYADARI DOSA DAN MEMOHON PENGAMPUNAN

Mazmur 51

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. (Mzm. 51:5)

Mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah. Ketika mengakui kesalahan, kita justru diperlakukan tidak baik, direndahkan dan berbagai tindakan lain yang menyakiti dan melukai hati. Karena itu banyak orang memilih menyembunyikan kesalahannya.

Daud, ketika berbuat salah dan dosa, ia pun sedapat mungkin menyembunyikan kesalahan dan dosanya. Namun, Tuhan yang mengetahui segala sesuatu menegur Daud melalui nabi Natan. Melalui teguran nabi Natan, Daud kemudian jujur mengakui dan menyadari segala dosa serta kejahatannya kepada Tuhan, lalu memohon belas kasihan dan pengampunan Tuhan. Dalam doanya ia berkata, "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!" (ay. 3-4). Daud yakin ketika ia datang dengan hati yang hancur mengaku dosa dan memohon belas kasih Tuhan, maka Tuhan pasti mengampuni dosanya.

Sebagai manusia, kita tentu tidak luput dari kelemahan dan dosa. Namun, apakah kita menyadari kelemahan dan dosa kita? Tanpa kesadaran itu, kita tidak mungkin datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Kita bersyukur atas Roh Kudus yang senantiasa hadir dan memimpin kita dalam kebenaran. Bila kita jatuh dalam dosa, Ia akan menginsafkan kita akan dosa itu, sehingga kita akan melakukan pertobatan dan memohon pengampunan-Nya.

REFLEKSI: Pengampunan dosa terjadi ketika kita menyadari segala dosa, datang kepada Tuhan, dan mohon belas kasih-Nya.

Mzm. 51; Mi. 6:1-8; Yoh. 13:31-35


HR, Wasiat
Rabu, 7 November 2018