Translate

20091008

Welcome To PELITA HATI

 Syalom...,

Selamat datang di blog Pelita hati.

Saya senang atas kunjungan Anda di blog ini.

Blog ini berisi kumpulan renungan yang saya tulis dan pernah saya sampaikan dalam pelayanan di gereja yang saya layani.

Silahkan lihat2 dan jelajahi blog ini, saya berharap semoga renungan-renungannya bermanfaat dan menjadi berkat.

Salam,
hr.

20090930

MENJADI SESAMA BAGI YANG MENDERITA

Lukas 10: 25-37

· Ada seorang bijak yg (Mahatma Gandhi) sangat mengagumi Yesus dan sangat tertarik dengan ajaran-ajaran-Nya. Tetapi ketika orang bijak ini datang ke sebuah gereja, ia sangat kecewa melihat sikap hidup orang-orang Kristen yang sangat bertolak belakang dengan ajran Yesus. Dalam kekecewaannya ia berkata demikian: “Saya tidak akan menjadi Kristen, sebelum saya melihat hidup orang Kristen kelihatan lebih selamat dari pada saya.”

· Dengan perkataan lain orang bijak ini berkata, jika kita adalah orang yang telah diselamatkan atau memperoleh hidup yang kekal, tunjukkanlah atau buktikanlah hal itu dalam sikap hidup kita, perkataan dan perbuatan kita. Jika kita anak Raja hiduplah sebgai anak Raja, jika anak Allah hiduplah sebagai anak Allah, bukan sebagai pendusta atau anak durhaka.

· Melalui Perumpamaan Orang Samaria Yang Murah Hati ini, Tuhan Yesus hendak mengajar kita tentang Keselamatan atau Hidup Kekal dan hubungannya dengan sikap hidup dan perbutan kita terhadap sesama manusia.

· Perumpamaan ini ditujukan kepada orang-orang yang merasa puas dan bangga karena telah beribadah secara seremonial (upcara) tetapi tidak berbuat apa-apa setelah pulang dari upacara ibadah itu.




· Munculnya perumpamaan ini, berawal dari pertanyaan seorang ahli Taurat yang ingin mencobai Yesus, dengan mengecek ajaran-Nya tentang cara memperoleh hidup yang kekal dan siapa itu sesama manusia.

· Ahli Taurat itu bertanya: tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus tidak menjawabnya tetapi ia hanya mengingatkan akan apa yang ia sudah tahu yang ada dalam hukum Taurat. Dan ia menjawab tentang hukum kasih, yaitu kasih kepada Allah (Ulangan 6:5) dan kasih kepada sesama manusia (Imamat 19:18).

· Kata Yesus, jawabmu itu benar pergilah dan perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Di sini Yesus hendak menekankan bahwa HIDUP KEKAL dapat diperoleh bukan dengan PENGETAHUAN Taurat, atau ayat-ayat Alkitab, atau pengetahuan tentang kasih kepada Allah dan sesama melainkan dengan BERBUAT KASIH.

· Tampaknya ahli Taurat itu setuju dengan apa yang dikatakan Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal yaitu dengan mengasihi Allah. Tetapi ALLAH itu tidak kelihatan, karena itu untuk mengasihi ALLAH harus ada wujudnya, dan wujud mengasihi ALLAH itu adalah dengan MENGASIHI SESAMA. Karena itu ahli Taurat ini tidak lagi mempertanyakan bagaimana mengasihi Allah tetapi bagaimana mengasihi sesama, terutama soal: “siapakah sesamaku manusia itu”.

· Orang Yahudi umumnya memahami bahwa SESAMA MANUSIA adalah saudara sebangsa, sesama orang yahudi, atau orang bangsa lain yang memeluk agama yahudi, sedangkan di luar itu adalah orang kafir atau bukan sesama, karena itu mereka tidak perlu dikasihi. Karena bagi mereka menolong orang kafir adalah setuju dan membiarkan kekafiran ada di dunia ini. Misalkan saja: mereka dilarang menolong orang kafir yang menderita melahirkan, karena dengan menolongnya berarti mereka menyebabkan datangnya seorang kafir baru ke dunia ini. Dan itu merupakan suatu kejahatan bagi mereka.

· Ahli Taurat itu mungkin merasa bahwa KONSEPNYA/PEMAHAMANNYA tentana sesama manusia itu, itulah yang benar. Karena itu ia bertanya untuk MEMBENARKAN dirinya: “Siapakah sesamaku manusia?”

· Dalam konteks inilah Yesus menceritakan perumpamaan ini kata-Nya: “ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yeriko (berjarak kira-kira 27 Km. Dan merupakan jalan yang menurun, karena Yerusalem letaknya lebih tinggi dari Yeriko). Pada abad kelima jalan ini disebut “jalan Merah atau jalan darah” dan abd ke-19 untuk melewati jalan ini orang harus membayar upeti kepada SHEIK setempat untuk keamanan dirinya.

· Dikatakan: orang yang lewat itu dirampok habis-habisan dan HAMPIR MATI. Tidak lama kemudian seorang imam turun dari Yerusalem melewati jalan itu (mungkin ia telah memimpin ibadah di Yerusalem dan hendak pulang ke Yeriko, karena Yeriko adalah kota di mana para imam banyak bermukim). Imam itu melihat orang yang hampir mati itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Mengapa ?

· Mungkin imam itu berpikir bahwa orang itu sudah mati, sedangkan jika ia menyentuh mayat, maka ia akan najis selama 7 hari dan ia kehilangan haknya untuk memimpin upacara berikutnya di bait Allah, sehingga dari pada ia kena najis lebih baik ia lewat saja.

· Kemudian orang Lewi lewat juga di situ dan melihat orang itu tapi ia pun melewatinya dari seberang jalan. Karena orang Lewi berprinsip: yang penting adalah keselamatan diri. Ia takut kalau orang yang hampir mati itu adalah seorang gerombolan penjahat yang berpura-pura, jadi kalau ia menolongnya maka ialah yang akan dirampok, sehingga dari pada ia membahayakan diri sendiri, lebih baik lewat saja.

· Dari sini kita bisa menarik sebuah pelajaran: Imam dan Orang Lewi itu dikatakan berjalan turun, berarti dari Yerusalem menuju ke Yeriko. Dan ini berarti mereka baru saja mengikuti Ibadah di Bait Allah, mereka melayani di Bait Allah, mereka mungkin berkotbah atau mendengarkan kotbah dsb. Tetapi setelah mereka pulang dari Ibadah/Bait Allah/Gereja apa yang mereka lakukan…….?

· Bagi mereka yang penting adalah Ibadah di gereja atau melayani di gereja saja, atau mendengar Firman Tuhan di gereja dan itu bagi mereka sudah cukup untuk mendapat keselamatan, sekalipun mereka tidak berbuat atau tidak melakukan apa yang didapat dari gereja yaitu firman Tuhan.

· Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa Ibadah itu memang penting……, tetapi hal yang sangat penting yang tidak boleh terpisah dari Ibadah adalah APA YANG KITA LAKUKAN SETELAH IBADAH ITU ! Karena ibadah secara UPACARA atau SEREMONIAL saja adalah Nol Besar, jika kita tidak melakukan Firman setelah ibadah itu.

· Lalu datanglah ORANG SAMARIA melewati jalan itu. Orang Samaria adalah orang yang dianggap hina secara teologis atau agama oleh orang Yahudi karena mereka tidak hidup menurut aturan agama Yahudi, secara budaya ia kawin Campur dengan bangsa lain, karena itu orang Yahudi menganggap hina mereka dan tidak bergaul dengan mereka.

· Tetapi di luar dugaan para pendengar perumpamaan itu, Yesus katakan: ketika ia (orang Samaria itu) melihat orang yang sekarat dan hampir mati, lalu TERGERAKLAH HATINYA OLEH BELAS KASIHAN, lalu ia menolong orang itu sampai tuntas.

· Sampai di sini perumpamaan itu berakhir. Dan Yesus mengoreksi pertanyaan ahli Taurat tentang : “Siapakah sesamaku manusia?” Karena dengan pertanyaan ini kita bisa memilih siapa saja sesama kita, yaitu yang cocok dengan kita, yang sepaham dengan kita, hanya saudara sekandung atau saudara segereja saja atau yang seagama saja, bisa sesama suku, bisa sesama orang yang kaya, sesama yang pandai, dsb.

· Dan hal ini di satu sisi memang mengasihi sesama tetapi di sisi lain membenci sesama yang lain, bahkan menimbulkan tembok-tembok pemisah dan fanatisme yang sempit. Yang hanya memperjuangkan kebahagiaan/kebaikan kelompoknya sekalipun dengan cara membuat sesama yang lain menderita bahkan mati menjadi korban. Bukankah ini yang terjadi di negara kita sekarang…..? Perang suku, ras dan antar golongan bahkan menjurus pada perang agama dibeberapa daerah. Semua ini disebabkan karena pemahaman yang sempit tentang SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA.

· Karena itu Yesus tidak menjawab pertanyaan ahli Taurat itu yang mempertanyakan “Siapakah sesamaku manusia” tetapi melalui perumpamaan itu Yesus balik bertanya kepadanya, “Siapakah diantara ketiga orang ini, ….adalah sesama manusia dari orang jatuh ke tangan penyamun itu?”

· Yang terpenting menurut Yesus bukanlah bertanya secara teoritis:”Siapakah sesamaku manusia” tetapi berbuatlah secara praktis sebagai SESAMA MANUSIA BAGI MEREKA YANG MENDERITA dan membutuhkan pertolongan.

· Jadi dalam MENGASIHI SESAMA, tekanannya bukan KITA MEMILIH SIAPA SESAMA KITA…, tetapi terletak pada kehendak atau kemauan kita, yaitu MAUKAH KITA MENJDADI SESAMA BAGI ORANG YANG MENDERITA. Karena yang paling membutuhkan sesama dalam hidup ini adalah orang-orang yang demikian, karena jarang orang mau menemani orang yang menderita. Tetapi untuk orang yang kaya, sukses, pandai dsb. banyak orang akan datang menemani Dan menjadi sesamanya.


PENERAPAN
· Kita sering mendengar bahwa keselamatan dan hidup yang kekal adalah karena iman. Tetapi dari firman ini kita tahu bahwa iman itu bukan sekedar pengetahuan dan perasaan. Mengetahui ayat-ayat Alkitab dan merasa telah hidup benar, BELUM TENTU Saudara BERIMAN. Karena iman itu menyangkut seluruh aspek kehidupan kita terutama PERBUTAN kita yang penuh kasih terhadap sesama , yang dilakukan kapan pun, di mana pun dan terhadap siapa pun.

· Beribadah secara seremonial itu penting dan mempunyai prinsip hidup itu pun baik, tetapi MENGASIHI SESAMA dalam praktek adalah hal penting yang tidak boleh terpisah dari ibadah seremonial yang kita lakukan.

· Untuk MENGASIHI SESAMA dibutuhkan keberanian dan pengorbanan. Mungkin kita harus mengorbankan prinsip hidup kita yang egois, mungkin harta, mungkin waktu, tenaga dsb. karena itu dalam mengasihi sesama jangan bertanya SIAPA sesama kita yang harus kita kasihi, tetapi MAUKAH kita menjadi sesama bagi mereka yang menderita dan membutuhkan pertolongan.

· Inilah cara memperoleh hidup yang kekal, yaitu mengasihi Allah dengan segenap aspek hidup kita. Dan bukti mengasihi Allah adalah dengan mengasihi sesama dan menjadi sesama bagi mereka yang menderita, siapapun mereka: baik seiman atau pun tidak, mereka mungkin ada di dalam keluarga kita atau di luar keluarga kita, di dalam gereja atau di luar gereja kita, mereka bisa ada di mana saja tetapi YANG JELAS mereka ada disekitar kita .

· Maukah Saudara memperoleh hidup yang kekal ? PERGILAH DAN PERBUATLAH seperti orang Samaria itu, menjadi sesama bagi orang yang menderita MAKA KAMU AKAN HIDUP ! A M I N !


Handri Rusli, 04032001 (GKB, Ibadah I, II, dan III)

20090507

IBADAH YANG MEMBANGKITKAN INSPIRASI

Bila 'ku lihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh 'ku dengar.
Ya Tuhanku tak putus aku heran, melihat ciptaan-Mu yang besar.

Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku !
Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku !




Bila kita memerhatikan syair lagu di atas tampak jelas bahwa pengarang atau pencipta lagu "Sungguh Besar Allahku" (How Great Thou Art) terinspirasi oleh alam; ketika melihat bintang-bintang, dan mendengar bunyi guruh atau petir yang dasyat dan tentunya juga oleh bentuk-bentuk alam yang lainnya, semua itu memberi inspirasi kepada pengarang untuk memuji dan membesarkan TUHAN Sang Pencipta alam semesta.

Alam telah memberi banyak inspirasi kepada manusia. Burung-burung telah memberi inspirasi kepada manusia untuk menciptakan pesawat terbang bahkan pesawat ruang angkasa. Ikan-ikan telah memberi inspirasi kepada manusia untuk menciptakan kapal selam, petir telah menginspirasi untuk menciptakan lampu listrik dan lain sebagainya.

Sebenarnya segala sesuatu dalam kehidupan ini dapat memberi inspirasi kepada manusia baik yang bersifat positif maupun negatif. Pelayanan di Hotel berbintang, misalnya, atau restoran mewah dengan para pelayan yang ramah, berseragam rapi dan bersih serta sangat dan terampil dalam melayani memberi inspirasi kepada kita untuk siap membayar mahal. Sebaliknya pelayanan di sebuah penginapan sederhana atau losmen atau rumah makan tenda dengan pelayanan seadanya, bising, panas dan berdebu juga memberi inspirasi kepada kita untuk membayar jauh lebih murah semua pelayanannya. Bahkan sebenarnya hidup kita pun dapat memberi inspirasi kepada sesama di sekitar kita, melalui pemikiran, perkataan dan terlebih perbuatan kita. Orang lain dapat terinspirasi oleh kita baik hal positif maupun negatif.

Jika segala sesuatu dapat memberi inspirasi bagi kita lalu bagaimana dengan ibadah kita kepada Tuhan ? Apakah ibadah yang kita lakukan juga telah memberi atau membangkitkan inspirasi kepada kita dan sesama ?

Ibadah memang mempunyai pengertian yang sangat luas karena ibadah menyangkut seluruh kehidupan kita. Namun dalam hal ini kita batasi dulu pada pengertian ibadah dalam arti seremonial seperti kebaktian minggu dan kebaktian-kebaktian lainnya di gereja.

Banyak orang yang datang ke gereja untuk beribadah dan pulang dengan perasaan yang 'hampa' sama seperti ketika ia datang. Mengapa ? Mungkin karena ibadah yang berlangsung terasa 'kering', 'gersang' tidak membangkitkan inspirasi yang positif untuk dilakukan. Hal ini dapat disebabkan dua hal, yaitu:

Pertama, bisa karena orang yang datang beribadah ke gereja tidak mempersiapkan hati dan seluruh dirinya untuk beribadah, yaitu untuk mengabdi dengan menyenangkan Tuhan dalam seluruh rangkaian peribadahan yang berlangsung. Seharusnya setiap orang yang datang beribadah adalah untuk memberi diri, untuk mengabdi, dan untuk melayani Tuhan bukan untuk menerima, diabdi atau dilayani. Beribadah adalah untuk menyenangkan Tuhan bukan untuk kesenangan diri sendiri. Jika kita datang beribadah tidak dengan kesiapan hati seperti ini maka bisa jadi kita akan merasa hampa dan bahkan kecewa dalam beribadah.

Kedua, mungkin karena para penata layan yang bertugas dalam ibadah itu kurang mempersiapkannya dengan baik sehingga ibadah yang berlangsung terkesan 'asal' jalan. Hal ini dapat disebabkan karena para penatalayan tidak memahami dengan benar bahwa mereka sedang mengemban tugas yang sangat penting dan mulia yaitu melayani ALLAH Sang Pencipta Alam Semesta yang menghendaki ketertiban dan keteratuan (Kejadian 1). Betapa pun kecil dan sederhananya tugas pelayanan yang diberikan semua itu harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya karena merupakan kepercayaan dari Tuhan Semesta Alam. Tidak kalah penting dalam mempersiapkan ibadah adalah penataan ruang yang nyaman sehingga terhindar dari kebisingan dan panas (gerah) yang dapat mengganggu kekhidmatan ibadah, juga penataan dan perlengkapan soundsystem serta audiovisual yang baik bebas dari segala gangguan yang mungkin terjadi.

Jika setiap orang telah mempersiapkan hati untuk beribadah dan segenap penatalayan telah mempersiapan diri dengan sebaik-baiknya untuk melakukan tugasnya dengan segala perlengkapan yang mendukung maka ibadah yang berlangsung akan membangkitkan inspirasi bagi setiap orang yang ada di dalamnya. Setiap orang akan terkesan (baca: terinspirasi) bahwa ibadah itu bukan 'asal' jalan, penatalayan yang bertugas dengan seragam dan atribut penatalayan bukan sembarang orang yang tanpa dipersiapan tetapi benar-benar orang yang dipilih dan dipersiapkan (baca: dibina) sesuai dengan talenta dan karunianya sehingga kompeten di bidang pelayanannya.

Ibadah yang dipersiapkan dengan baik akan membangkitkan inspirasi bagi setiap orang yang datang beribadah. Orang yang memiliki rasa dendam, misalnya, ketika mendengar khotbah tentang pengampunan akan terinspirasi untuk mengampuni, orang yang malas untuk menyanyi ketika mendengar paduan suara, prokantor serta iringan musik yang indah terinspirasi untuk menyanyi dengan sungguh-sungguh baik dan benar, orang yang semula menyepelekan tugas-tugas yang dianggapnya kecil dan rendah ketika melihat pelayanan tim kolektan yang terampil dan teratur rapih dalam pelayanannya terinspirasi untuk melakukan tugas sekecil apapun dengan baik dan penuh tanggung jawab. Demikian juga orang akan terinspirasi untuk bersikap ramah dan hangat karena melihat pelayanan tim penyambutan yang berlaku demikian. Dan setiap orang yang hadir akan saling menginspirasi sesamanya untuk melakukan segala yang baik dan benar dalam rangka beribadah, mengabdi kepada Tuhan dalam hidupnya baik dalam ibadah seremonial maupun dalam ibadah kehidupan sehari-hari.

Semoga ibadah kita adalah ibadah yang membangkitkan inspirasi bagi segenap jemaat dan semoga hidup kita masing-masing juga memberi inspirasi kepada sesama untuk melukan segala yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Dan semoga TUHAN berkenan dengan ibadah kita !

#Handri Rusli@Bulletin GKB, 05022008.#

"PERSIAPKANLAH JALAN UNTUK TUHAN"

Lukas 3 : 1- 14 (Nats ay. 4b – 6)
            Setiap menjelang natal, mungkin kita sering mendengar nats pembacaan kita dibacakan atau dikhotbahkan, yang mengatakan tentang  ADA SUARA YANG BERSERU-SERU: "Persiapkanlah jalan bagi Tuhan".  Mungkin karena seringnya kita mendengar, bisa saja kita menjadi bosan mendengarnya. Tetapi persoalannya adalah bukan seberapa banyak atau seringnya kita membaca dan mendengar nats ini, melainkan apakah kita telah mengerti apa yang dimaksud Yohenes Pembaptis dengan perkataannya " Persiapkanlah Jalan Bagi Tuhan" ?
            Untuk memahami apa yang dimaksudkan Yohanes, saya akan membawa Saudara pada ilustrasi tentang jalan di kota Bogor. Sebagai orang Bogor, tentu kita tahu bahwa setiap hari jalan-jalan di Bogor selalu diwarnai dengan kemacetan lalulintas. Nah, seandainya dalam situasi kemacetan sehari-hari yang mewarnai Bogor, lalu presiden kita  'Gusdur' mau berkunjung ke Bogor. Mendengar berita itu, maka Bapak Wali kota berkata kepada bawahannya dan kepolisian Bogor, "Persiapkanlah jalan  bagi Presiden kita!"  Mendengar perkataan wali kota itu, saya yakin, pasti seluruh bawahannya mengerti maksudnya, yaitu membuat jalan-jalan yang akan dilalui presiden menjadi bebas macet.
            Demikian juga jika kondisi jalan di desa-desa berlogak, becek, bergunung-gunung, berliku-liku dsb. Dan ada seorang Bupati akan datang ke desa itu, maka kepala desanya berkata kepada seluruh warganya: "Persiapkanlah jalan bagi Bupati kita yang akan lewat!".  Saya percaya, jangankan warga desa itu, Saudara-saudara pun pasti mengerti maksudnya, yaitu menimbun jalan yang berlubang, meratakan yang bergung-gunung, merapikan yang semrawut dsb.
            Dengan maksud yang hampir sama seperti kedua ilustrasi inilah Yohanes berkata kepada bangsanya, "Persiapkanlah jalan bagi Tuhan".  Jalan yang mana ? Tentu bukanlah jalan sebenarnya seperti kedua ilustrasi di atas. "Jalan" di sini hanya sebagai kiasan/perumpamaan. Karena pada jaman itu belum ada jalan yang macet, dan kondisi jalannya pun sudah cukup baik. Mengapa saya katakan demikian ? Karena Pelestina waktu itu berada di bawah jajahan Romawi, di mana mereka selalu membangun jalan-jalan yang baik di daerah jajahannya  yang semuanya menuju ke kota Roma. Itulah sebabnya sampai saat ini kita sering mendengar istilah "banyak jalan menuju Roma".
            Agar kita mengerti arti "Memepersiapkan Jalan"  seperti yang dimaksud Yohanes, maka penulis Injil Lukas menceritakan konteks/keadaan masyarakat pada waktu itu :
1.      Situasi Politik (ay 1) : ada di bawah kekaisaran Romawi yang besar yang membawahi para gubernur dan raja-raja wilayah. Kekaisaran ini adalah kafir, dan pemerintahannya menyusup ke bidang agama, mengaturnya untuk kepentingan negara. Sehingga seharusnya hanya satu Imam Besar, namun demi kepentingan negara, diangkatlah imam besar yang lain, sehingga waktu itu ada dua Imam Besar (ay.2).
2.      Situasi keagamaan : Karena negara turut campur dalam keagamaan maka kehidupan keagamaan diwarnai dengan pertobatan-pertobatan yang semu. Orang-orang berpikir : yang penting adalah sebagai orang Yahudi dan keturunan Abraham, itulah yang menyelamatkan. Sekalipun tanpa buah-buah pertobatan (ay. 7-9)
3.      Situasi sosial (ay.10-14) : tidak ada keadilan dan cinta kasih diantara sesama. Masing-masing mementingkan diri sendiri. Yang punya banyak pakaian tidak peduli dengan yang tidak punya. Yang berkelebihan makanan tidak peduli dengan yang kelaparan dsb.
Dalam situasi seperti itulah Yohanes Pembabtis datang dan berkata, "Persiapkanlah jalan bagi Tuhan".
Apa artinya mempersiapkan jalan bagi Tuhan dalam situasi seperti itu ?
·        Di tengah-tengah situasi formalitas keagamaan yang merajalela; mementingkan keyahudian, keturunan Abraham, umat Allah namun tanpa pertobatan……"Mempersiapkan Jalan bagi Tuhan " berarti:  Harus ada perubahan sikap hati atau bertobat.  Keagamaan jangan hanya di permukaan saja tetapi harus mendasar di hati dan disertai ibadah nyata dalam hidup sehari-hari. Bila tidak demikian, maka kapak telah tersedia pada akar pohon dan siap menebang pohon-pohon yang tidak berbuah, sekalipun ia keturunan Abraham dan Yahudi.
·        Di tengah-tengah situasi yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak ada keadilan dan cinta kasih,….."Mempersiapkan jalan bagi Tuhan"  berarti :  Harus ada perubahan sikap hidup ; dari memikirkan diri sendiri menjadi peduli dan memikirkan sesama. Membagikan pakaian pada yang tidak punya dan makanan pada yang kelaparan.
- Perubahan sikap hidup tidak sama dengan perubahan jabatan/pekerjaan, bila pekerjaan itu pada dasarnya baik. Karena itu para pemungut cukai dan para prajurit tidak perlu berhenti dari pekerjaannya/jabatannya tetapi yang harus mereka lakukan adalah meninggalkan dosa-dosa dari jabatannya itu,   korupsi,  kolusi,  nepotisme dsb.
·        Dalam situasi politik keagamaan yang memperebutkan kedudukan Imam Besar, …"Mempersiapkan jalan"  berarti : menyadari keberadaan diri, tidak meninggikan diri dan belajar menerima serta bertanggung jawab dengan jabatan yang ada. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis berkata,  "Aku bukan Mesias, membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak" (ay. 15-16).
Jadi  yang dimaksud "mempersiapkan jalan bagi Tuhan"  dalam pembacaan kita berarti : MENGUSAHAKAN PERUBAHAN SIKAP HATI DAN SIKAP HIDUP DALAM SEGALA BIDANG KEHIDUPAN KITA,  ke arah yang lebih baik, lebih berkenan dan lebih memuliakan Tuhan.
 *
            Persoalannya sekarang, pada hari Natal ini,  dan dalam menyambut kedatangan Kristus yang kedua, bagaimana kita dapat "Mempersiapkan jalan bagi Tuhan"  dalam konteks kita kini dan di sini ?!
Untuk itu, pertama-tama, kita harus tahu dulu bagaimana situasi dan kondisi "jalan" yang ada. Apakah berlubang, bergunung, atau berkelok-kelok ?  Mari kita lihat jalan-jalan di sekitar kita :
-         Bagaimana kehidupan keluarga kita ? Hubungan suami dengan istri, orangtua dan anak, mertua dan menantu, kakak dan adik dsb.  Persiakanlah jalan dengan …..(memperbaiki seluruh hubungan tersebut dengan perubahan sikap hidup dan sikap hati terhadap Suami, istri, anak-anak, orangtua dsb.)
-         Bagaimana dengan sikap hidup kita ? Egois, mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan sesama dsb. Persiapkanlah jalan dengan cara……..
-         Bagaimana dengan pekerjaan kita ? Adakah korupsi, kolusi dan nepotisme kita lakukan? Persiapkanlah jalan ………..
-         Bagaimana dengan keagamaan kita ? Apakah hanya formalitas saja, sekedar kewajiban menjalankan hukum agama saja ? jika demikian, persiapkanlah jalan………
-         Bagaimana dengan pelayanan kita ? Apakah kita paham betul apa artinya menjadi pelayan, yang berarti merendahkan diri dan menganggap orang lain lebih utama, lebih penting dan lebih segala-galanya dari pada diri sendiri atau kita melayani dengan arogansi dan kesombongan untuk memerintah sesama? Kalau begitu persiapkanlah jalan …………
-         Bagaimana sikap kita terhadap sesama ? selalu curigakah dan iri dengki terhadap sesama ? Persiapkanlah jalan  …..
Untuk menyambut Natal dan kedatangan-Nya yang kedua, pada masa Advent ini, Tuhan menghendaki kita untuk mempersipkan jalan-Nya. Dengan mengadakan perubahan sikap hidup dan hati dalam segala bidang kehidupan kita. Karena jika Ia datang yang kedua, sebagai Hakim maka yang akan Ia lihat bukanlah Saudara Kristen atau keturunan Abraham atau bukan, melainkan apakah ada buah-buah pertobatan dalam hidup Saudara dan saya atau tidak. Karena kapak telah tersedia pada akar pohon dan siap menebang yang tidak menghasilkan buah.
Kiranya Firman Tuhan menjadi pelita bagi hidup kita. Selamat memasuki Minggu Advent ! Selamat mempersipkan jalan bagi Tuhan ! Dan Tuhan memberkati !
AMIN !
(Handri R, Advent I, Pemuda GKB, 01122002)

20090423

Dipercaya Melanjutkan Karya-Nya

Yohanes 14:12-31
Menjadi orang kepercayaan adalah suatu prestasi yang cukup membanggakan, apa lagi menjadi orang kepercayaan dari orang nomor satu di negeri ini atau menjadi kepercayaan orang nomor satu di perusahaan kita bekerja. Tentu bukan hal yang mudah untuk menjadi orang kepercayaan. Supaya dapat dipercaya seseorang harus membuktikan dirinya terlebih dahulu bahwa memang ia layak dipercaya. Misalnya soal kesetiaannya, dedikasinya, loyalitasnya terhadap perusahaaan dan sebagainya.
Ketika Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan segera meninggalkan mereka untuk pergi ke Rumah Bapa (ay 1-3), ada tugas yang harus dikerjakan oleh mereka selain hanya menunggu kedatangan-Nya kembali untuk menjemput mereka ke rumah Bapa. Apakah tugas murid-murid selama menunggu kedatangan-Nya kembali itu? Mereka dipercaya oleh Tuhan untuk melanjutkan karya-Nya di dunia ini. Menjadi tangan dan kaki Yesus yang berbuat untuk sesama, menjadi mata dan hati Yesus untuk memperhatikan sesama dan mengasihinya, dan menjadi mulut Yesus untuk menyatakan kebenaran dan keadilan dengan berani kepada dunia.
Sungguh luar biasa, murid-murid dipercaya melanjutkan karya-Nya yang besar di dunia ini. Apa yang membuat murid-murid dipercaya oleh Tuhan untuk melanjutkan karya-Nya? Tentu kepercayaan yang diberikan Tuhan ini adalah anugerah artinya kepercayaan ini diberikan bukan karena memang mereka layak tapi karena semata-mata kemurahan-Nya. Tetapi anugerah kepercayaan ini juga harus direspon dengan baik oleh murid-murid dengan iman/percaya yang sungguh kepada Tuhan (ay. 12) dan dengan kasih serta ketaatan penuh kepada perintah-perintah-Nya (ay. 15, 21). Selanjutnya Tuhan bukan hanya mempercayakan tugas yang besar itu tetapi juga Ia menolong, menyertai dan memperlengkapi mereka dengan Roh-Nya yang kudus (ay. 26)
Dipercaya melanjutkan karya-Nya bukan saja ditujukan kepada murid-murid pada waktu itu tetapi juga kepada kita orang-orang percaya kini dan di sini. Kita dipercaya untuk menjadi tangan dan kaki-Nya, menjadi mata, hati dan mulut-Nya untuk melakukan segala kehendak-Nya saat ini, di jaman ini dan di tempat dimana kita berada. Kepercayaan yang diberikan kepada kita ini adalah anugerah semata bukan karena kita layak menerimanya, karena itu marilah kita responi kepercayaan dari Tuhan ini dengan iman, kasih dan ketaatan penuh kepada-Nya. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk melanjutkan karya-Nya. Amin
(handri r., warjem26042009)

20090416

Hidup Penuh Pengharapan Krn Kebangkitan Kristus

Matius 28:1-10
Pengharapan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini. Tanpa pengharapan kita tidak akan sanggup menatap masa depan. Tanpa pengharapan tidak ada orang yang dapat bertahan di tengah-tengah keras dan kejamnya kehidupan dan akan berakhir dalam keputusasaan dan kehancuran.
Ketika Yesus ditangkap, disalibkan dan mati, murid-murid Yesus menjadi orang-orang yang nyaris kehilangan pengharapan. Mereka hidup dalam ketakutan, bersembunyi, dan keinginan kembali pada kehidupan lamanya. Demikian juga perempuan-perempuan yg datang ke kubur Yesus. Mereka datang ke kubur bukan untuk melihat kebangkitan, mereka datang untuk merempah-rempahi mayat yesus. Tidak ada sama sekali di benak mereka bahwa Yesus akan bangkit, bagi mereka Yesus dengan segala semangat-Nya, misi-Nya, dan pengharapan-pengharapan akan Dia sudah selesai dan berakhir dengan kematian-Nya. Sudah tidak ada harapan lagi. Dan karena itu mereka datang ke kubur untuk merempah-rempahi mayat, bertemu dengan yang mati bukan bertemu dengan dengan  yang hidup.
Di luar dugaan, ternyata mereka mendapati kubur telah kosong dan malaikat Tuhan berkata bahwa Yesus bangkit dan hidup. Dan Yesus pergi mendahului murid-murid ke Galilea. Mendadak mereka yang datang ke kubur dengan sedih pulang dengan berlari cepat dengan penuh sukacita. "Yesus hidup! Yesus hidup! Masih ada harapan bagi hidup kita." Demikian kira-kira dikatakan dengan penuh semangat oleh para perempuan itu kepada murid-murid yang lain. Terjadi perubahan besar: dari sedih menjadi sukacita, dari putus asa menjadi berpengharapan, karena Yesus sumber pengharapan itu tidak mati tetapi hidup bahkan Ia berjalan di depan murid-murid mendahului ke Galilea. Ia berjalan di depan membuka jalan dan memberi pengharapan.
Sebagai murid-murid-Nya, kita diingatkan, bahwa apa pun yang sedang kita alami saat ini Yesus ada di depan hidup kita, Ia mendahului kita berjalan,  dan itu berarti selalu ada harapan bagi kita menyongsong masa depan.
Kiranya Yesus, Tuhan yang telah bangkit dan hidup selalu menolong kita menjalani hidup ini dengan penuh pengharapan. Amin!  
(Handri R. – 19042009)

20090409

DITEBUS UNTUK MENJADI BERKAT

Galatia 3:11-14


Dibenarkan karena melakukan hukum Taurat atau dibenarkan karena iman?
Inilah tema yang diangkat oleh Rasul Paulus dalam teks bacaan kita. Menurut Rasul Paulus prinsip Injil dan prinsip Taurat jelas berbeda. Dasar Taurat bukanlah iman tetapi perbuatan, yaitu siapa yang melakukannya akan hidup karenanya. Persoalannya adalah: apakah ada orang yang dapat melakukan seluruh perintah hukum Taurat dengan sempurna tanpa cacat sehingga ia didapati benar di hadapan Allah? Atau adakah orang didapati benar di hadapan Allah karena perbuatan-perbuatannya? Jawabnya sudah jelas, tidak seorangpun. Itulah sebabnya dikatakan bahwa setiap orang yang hidup di bawah hukum Taurat berada di bawah kutuk, karena di bawah hukum Taurat tidak mungkin seorangpun dapat selamat.

Jika demikian, memang tidak seorang pun dapat selamat dan dibenarkan di hadapan Allah karena perbuatannya, kecuali orang itu dibenarkan karena percaya, karena imannya kepada Kristus. Itulah prinsip Injil yang berbeda dengan prinsip Taurat. Di dalam Injil segala kelemahan dan ketidakberdayaan manusia memenuhi tuntutan Taurat telah digenapi oleh Kristus. Kutuk hukum Taurat telah dibebaskan oleh Kristus di atas kayu salib. Hutang dosa manusia karena kegagalannya memenuhi Taurat telah dibayar lunas di atas salib. Sehingga di dalam Kristus kita dibenarkan bukan karena perbuatan kita tetapi karana percaya kepada-Nya. Kita diselamatkan karena iman.

Diselamatkan dan  dibenarkan di hadapan Allah karena iman kepada Kristus, inilah yang harus kita wartakan kepada setiap orang, karana masih banyak orang menyangka bahwa mereka dapat diselamatkan dan dibenarkan dihadapan Allah karena perbutan-perbutannya, amal baiknya, jasa-jasanya dlsb.  Mungkin mereka yang menganggap demikian adalah anggota keluarga kita, teman dekat atau tetangga kita, sudahkah kita membawa warta selamat ini kepada mereka melalui kesaksian hidup sehari-hari? Sehingga kita yang telah diselamatan karena iman kita dapat menjadi berkat  bagi orang-orang di sekitar kita. 

(handri r.)

PERCAYALAH


(Yohanes 20:24-29)

Adalah tidak mudah memercayai sesuatu yang tidak masuk akal. Orang mati bangkit lagi, apa benar? Mana buktinya? "Sebelum saya melihatnya sendiri, memegangnya dan merabanya dengan tangan sendiri, saya tidak akan percaya!" Itulah kira-kira reaksi kita ketika mendengar berita ada orang yang bangkit dari kematian.

Sikap menutut bukti sebelum percaya adalah manusiawi dan wajar sebagai makhluk yang berpikir atau makhluk rasional. Dan sikap seperti ini adalah sikap kebanyakan orang pada umumnya. 2000 tahun yang lalu, Tomas seorang murid Yesus mewakili sikap kita ketika ia mendengar dari murid-murid yang lain bahwa Yesus bangkit dari kematian. Ia menutut bukti, dan mewakili kita ia berkata demikian, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Aku harus membuktikannya sendiri, baru aku percaya!

Seminggu kemudian, Yesus menampakan diri kepada Tomas bersama murid-murid yang lain. Yesus menyuruh Tomas membuktikan sendiri kebangkitan-Nya dengan  melihat-Nya, meraba-Nya dan mencucukkan jarinya ke luka bekas paku dan tombak pada tubuh-Nya. Dan Yesus berkata, "... jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah".

Meragukan kebangkitan Yesus adalah wajar dan manusiawi, namun di atas segala keraguan kita yang diwakili oleh Tomas, Yesus menginginkan kita percaya bahwa Ia benar-benar bangkit dari kematian, dan Ia benar-benar hidup dan Ia hidup untuk kita. Melalui percakapan-Nya dengan Tomas, Yesus mengingatkan kita bahwa iman (percaya) yang rasional dengan meminta bukti adalah wajar tetapi lebih dari itu Yesus menginginkan kita untuk memiliki iman yang melampaui akal/rasio kita, yaitu percaya sekalipun tidak melihat. Iman seperti inilah yang Yesus katakan berbahagia, karena iman seperti ini tidak akan goyah dengan apa pun juga, baik dengan bukti mau pun tanpa bukti.

Selamat Paskah, dan Percayalah bahwa Yesus bangkit dan hidup, Ia hidup untuk kita!

(Handri R. - renungan Paskah, 12042009)

20090408

Kematian Kristus Sebagai Karya Keselamatan Allah Yang Sempurna

(Ibrani 10:16-25, Yohanes 18, 19)
Bicara mengenai kesempurnaan akan membawa kita membandingkan dengan ketidak-sempurnaan. Demikian yang dilakukan penulis surat Ibrani ketika membicarakan karya keselamatan Kristus yang sempurna. Dalam hal ini penulis membandingkan secara tajam antara kurban yang dipersembahkan Yesus dengan kurban-kurban hewan yang dipersembahkan para imam.
Kurban Yesus dipersembahkan sekali untuk menghapus semua dosa manusia dan untuk selama-lamanya, demikian penulis surat Ibrani katakan, "Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, ... Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (10:12,14). Sedangkan kurban-kurban hewan yang dilkakukan para imam harus dilakukan tiap-tiap hari dan berulang-ulang namun tidak juga menghapuskan dosa (10:11) bahkan hal itu hanya untuk menyadarkan manusia akan keberdosaannya saja.
Mengapa hanya kurban Yesus yang sempurna?
Pertama, karena Yesus adalah Anak Allah -- Anak yang kekal. Sebagai Anak Allah, Ia menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa melalui ketabahan-Nya untuk menderita bahkan mati disalib sebagai kurban penghapus dosa (Yohanes 18 – 19). Sebagai Anak Allah, Yesus lebih tinggi dari nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Ia pun lebih tinggi dari malaikat atau Musa sendiri. Namun Ia taat pada Bapa untuk menjadi kurban penghapus dosa.
Kedua, karena Yesus adalah Imam Agung yang lebih tinggi daripada imam-imam dalam Perjanjian Lama (ay. 21), dengan perantaraan Yesus, orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari dosa dan dari ketakutan dan kematian. Sebagai Imam Agung, Yesus memberikan kepada manusia keselamatan sejati yang tidak dapat diberikan oleh upacara-upacara persembahan kurban dan upacara-upacara lainnya di dalam agama Yahudi. Upacara-upacara itu hanya dapat memberikan gambaran dari keselamatan sejati itu saja, lain tidak.
Hari ini, kita memperingati karya keselamatan Allah yang sempurna di dalam kematian Kristus di kayu salib. Dalam kesetiaan dan ketaatan-Nya pada Bapa, Ia tabah menghadapi derita salib. Hal ini seharusnya membawa kita juga untuk setia dan taat pada Allah dalam hidup ini sekalipun di dalam pergumulan dan penderitaan yang mungkin kita hadapi.
Hari ini juga kita memperingati kebaikan dan kemurahan Allah yang paling besar bagi semua orang karena Yesus mati bukan saja untuk orang-orang Kristen, tetapi juga untuk mereka yang di luar kekristenan bahkan yang membenci kristen sekalipun, Ia mati untuk mereka yang di dalam gereja tetapi juga untuk mereka yang di dalam penjara, untuk mereka yang kaya tetapi juga untuk mereka yang miskin. Karena itu hendaklah peringatan ini mendorong kita juga untuk mengasihi dan berbuat baik kepada semua orang (ay. 24).
Karena itu marilah kita datang ke Perjamuan Kudus-Nya dengan hati yang murni dan penuh syukur atas keselamatan sempurna yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Selamat memperingati Jumat Agung, selamat memperingati kemurahan Allah terbesar bagi kita semua, kiranya Tuhan menolong kita juga untuk bermurah hati kepada sesama. Amin.

(Handri R.-renungan Jumat Agung, 10042009)

20090402

Hidup Cerminan Pengakuan Iman

Roma 10:4-21

Setiap orang menjalani hidup menurut apa yang diyakininya “baik” dan “benar”. Hal ini dapat terlihat melalui kehidupan di sekitar kita. Misalnya ada orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan sangat keras, mengapa? Karena cara itulah yang ia yakini baik dan benar untuk anak-anaknya dikemudian hari. Demikian juga dengan orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan lembut dan pengertian, karena keyakinan yg sama. Bahkan apa yang dilakukan para teroris dengan bom bunuh diri adalah tidak terlepas dengan apa yang mereka yakini sebagai “baik” dan “benar” itu.

Dengan memahami ini kita jadi dapat mengerti mengapa umat beragama “A” berperilaku begini dan umat beragama “B” berperilaku begitu, yaitu karena apa yang mereka yakini sebagai “baik” dan “benar”. Karena itu, dalam hal-hal tertentu, kita dapat dengan mudah membedakan orang-orang menurut keyakinannya, misal mana yang beragama A, B, atau C melalui apa yang mereka perbuat

Hal inlah yang Rasul Paulus ceritakan di Roma 10:1-21. Rasul Paulus sangat menginginkan agar bangsanya, umat Yahudi, diselamatkan karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya (ay. 1). Tapi hal ini tidak mudah karena orang-orang Yahudi meyakini, mengimani bahwa keselamatan itu adalah karena mentaati Hukum Taurat bukan karena percaya pada Yesus. Dan itulah sebabnya mereka begitu giat melakukan amal perbuatan sesuai Taurat (ay.2) sebagai wujud keyakinan bahwa itulah cara mendapatkan keselamatan yang benar.

Jika orang Yahudi begitu giat hidup mencerminkan keyakinannya dengan ketaatan penuh pada Hukum Taurat, Bagaimana dengan kita yang meyakini bahwa keselamatan adalah karena iman kepada Yesus? Menurut Rasul Paulus, percaya/iman bukan saja masalah hati tetapi juga soal mengaku dengan mulut (ay. 10) dan bahkan nyata juga dalam segala tindakan (Yakobus 2:18, 20, 26). Jadi sebagai orang-orang yang telah diselamatkan karena iman kepada Yesus, seharusnya hati kita penuh sukacita, mulut kita penuh dengan ungkapan syukur dan pujian dan tindakan kita penuh dengan kasih dan pengampunan, karena kita telah dikasihi dan diampuni oleh Tuhan.

Dengan demikian hidup kita menjadi cerminan iman kita. Semoga Tuhan menolong kita. (HR, 05042009)

20090311

LEBIH BERBAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA

-=Handri Rusli=-

Kisah Para Rasul 20:35

· Mendengar tema ini, mungkin kita jadi bertanya: “Apa betul lebih berbahagia memberi daripada menerima?” Apa bukan sebaliknya?! Karena ketika kita memberi berarti kita kehilangan sesuatu, sedangkan jika menerima berarti kita mendapatkan sesuatu.

· Nah kalau begitu mana yang bisa membuat bahagia? Menerima, yang berarti mendapatkan sesuatu yang baik dan berharga atau memberi, yang berarti kehilangan sesuatu yang baik dan berharga?

· Menurut konsep dunia pasti lebih berbahagia MENERIMA! Tetapi Firman Tuhan mengatakan justru “Lebih berbahagia memberi daripada menerima”. Mengapa? Dan pemberian yang bagaimanakah yang bisa membuat kita berbahagia itu?

Pembahasan isi
· Nats pembacaan kita ini, diungkapkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Selama kurang-lebih 3 tahun Paulus melayani di sana.

· Paulus melihat bahwa jemaat di Efesus memiliki kehidupan yang baik secara ekonomi, namun mereka kurang peduli dalam mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan

· Memang untuk pelayanan Paulus sendiri di Efesus, ia bisa membiayai sendiri pelayanan itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa jemaat Efesus tidak perlu mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan. Karena ada banyak pelayanan pekerjaan Tuhan yang membutuhkan dukungan mereka.

· Karena itu Paulus menasihati jemaat agar mereka jangan hanya hidup untuk diri mereka sendiri saja, tetapi mereka harus belajar memberi untuk pekerjaan Tuhan dan untuk sesama yang membutuhkan pertolongan. Menurut Paulus di situlah justru letaknya KEBAHAGIAAN bagi orang percaya. Jadi kebahagiaan orang percaya bukan diperoleh hanya dengan mengumpulkan dan menerima, serta hidup hanya untuk diri sendiri. Tetapi justru ketika jemaat MEMBERI.

· Itulah sebabnya Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus, yang berkata: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Pendalaman
· MEMBERI yang bagaimana, yang dapat membuat kita berbahagia/bersukacita (2 Kor.9:7)?

· Agar kita BERBAHAGIA dalam MEMBERI, maka kita harus memiliki konsep dan motivasi yang benar dalam memberi.

· Konsep yang benar dalam memberi adalah dengan mencontoh Allah yang memberi. Dalam hubungnan luar negeri kita mengenal istilah negara donor dan negara penerima. Allah adalah satu-satunya PENDONOR/PEMBERI yang mutlak dan manusia, sampai kapan pun, bahkan sampai akhir zaman adalah PENERIMA. Jadi MEMBERI adalah sifat ilahi.

· Jadi kalau manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk MEMBERI, hal itu bererti suatu kehormatan dan kemuliaan karena itu seharusnya kita BERBAHAGIA dalam memberi. Karena ketika MEMBERI dengan motivasi yang benar berarti manusia menjadi gambar dan teladan Allah. Itulah sebabnya melalui PEMBERIAN yang dilakukan orang percaya, dunia akan melihat kemurahan dan kasih Allah kepada dunia ini.

· PEMBERIAN yang bagaimana yang Allah lakukan?

· Pertama, Allah MEMBERI bukan untuk mengikat/mengendalikan tetapi untuk membangun manusia. Allah memberi hidup, kesempatan dsb. Dan pemberian yang terbesar adalah Yesus Kristus, untuk menyelamatkan dan mengembalikan manusia kepada citra Allah.

· Ini berbeda dengan pemberian manusia; manusai memberi biasanya untuk mengikat. Misalnya: Pemberian waktu pertunangan adalah untuk mengikat wanita agar ia tidak lagi menjalin kasih dengan laki-laki lain. Atau dalam diakonia: memberi beasiswa tapi anak itu harus mengikuti yang kita mau; ia harus begini dan begitu.

· Pemberian seperti ini tidak membawa kebahagiaan karena pemberian seperti ini akan selalu diikuti kecemasan, kekuatiran dan ketakutan, yaitu takut kalau yang diberi tidak mengikuti apa yang kita mau; takut kalau pemberian itu tidak mampu mengikat dia dsb. Akhirnya kita bisa menjadi kecewa, marah, dan mengumpat bahkan segala macam yang buruk akan terlontar kepada orang itu.

· Kedua, Allah memberi bukan untuk mendapatkan sesuatu tetapi karena KASIH semata. Allah memberi bukan supaya manusia memberi kepada-Nya, Allah mengasihi bukan supaya manusia mengasihi-nya. Karena jika itu motivasi Allah dalam memberi dan mengasihi manusia maka Allah pasti akan kecewa, manusai tidak pernah betul-betul memberi dan mengasihi Allah. Allah tidak pernah kekurangan sesuatu dari manusia.

· Demikian juga dengan kita, kalau kita memberi maka kita harus memberi bukan untuk mendapatkan sesuatu tetapi karena kita mengasihi dan bersyukur.

· Untuk dapat memberi tanpa mengharapkan sesuatu, maka
- kita harus memberi dengan suka dan rela bukan dengan duka dan paksa (2 kor. 9:7)
- memberi berdasarkan apa yang ada pada kita (berkat yang telah kita terima) bukan berdasarkan apa yang tidak ada (yang diinginkan) jadi harus sebagai ungkapan syukur, bukan seperti pasang lotre.
- Misal: memberi ‘cepek’ supaya dapat ‘cetiaw’
- Memberi seperti ini tidak membawa bahagia tapi kecewa.

· Ketiga, PEMBERIAN Allah adalah pemberian yang relasional. Ia bukan hanya memberi sesuatu kepada manusia tetapi Ia memberi Diri-Nya sendiri bagi manusia. Ia menjadi manusia dan Ia mau repot dengan manusia. Pemberian-Nya tidak menggantikan relasinya dengan manusia.

· Banyak orang memberi, tapi tidak mau menjalin relasi dengan yang diberi karena takut direpotkan. Misal: Suami yang mencukupi kebutuhan keluarga tapi tidak memberi waktu untuk istri dan anaknya. Demikian juga dengan sesama yang lain.

· Hal ini tidak akan membawa kebahagiaan. Karena Memberi dengan menjalin relasilah yang akan membawa kebahagiaan. Contoh: Seseorang yang telibat dalam urusan diakoni mengaku: “berbahagia ketika berbicara dan mendengar ungkapan syukur dari orang-orang yang dibantu olehnya.

· Untuk apa dan kepada siapa kita memberi?

· Kita memberi untuk pelayanan pekerjaan Tuhan di dunia ini (Maleakhi 3:10, 1 Taw. 29:14) (Kasihilah Tuhan,...)

· Untuk sesama manusia yang membutuhkan pertolongan (kasihilah sesamamu manusia...)

· Agar kita dapat memberi dengan tepat, maka kita harus tahu apa yang menjadi kebutuhan pelayanan dan sesama kita yang menderita:
- sudahkah kita peka terhdap pelayanan diakonia di gereja ini: pelayanan pendidikan, kesehatan, panti jompo, gelandangan, fakir miskin, korban bencana alam, sosial ekonomi dsb.
- Sudahkah kita peka terhadap kebutuhan sesama di sekitar kita yang tidak terjangkau pelayanan gereja?
- Mungkin mereka keluarga kita, saudara kita, tetangga kita atau kenalan kita atau siapa pun mereka.

· Marilah kita MEMBERI, pertama-tama: diri kita, waktu kita, perhatian kita dsb. Kemudian kita melakukan sesuatu bagi mereka.
· Marilah kita memberi sebagaimana Allah telah memberi maka kita akan merasakan bahwa memang benar Firman Tuhan yang mengatakan: “Lebih berbahagia memberi dari pada menerima”

Kiranya Firman Tuhan menjadi berkat bagi kita dan menjadi kemuliaan bagi Tuhan. AMIN.