Translate

20090311

LEBIH BERBAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA

-=Handri Rusli=-

Kisah Para Rasul 20:35

· Mendengar tema ini, mungkin kita jadi bertanya: “Apa betul lebih berbahagia memberi daripada menerima?” Apa bukan sebaliknya?! Karena ketika kita memberi berarti kita kehilangan sesuatu, sedangkan jika menerima berarti kita mendapatkan sesuatu.

· Nah kalau begitu mana yang bisa membuat bahagia? Menerima, yang berarti mendapatkan sesuatu yang baik dan berharga atau memberi, yang berarti kehilangan sesuatu yang baik dan berharga?

· Menurut konsep dunia pasti lebih berbahagia MENERIMA! Tetapi Firman Tuhan mengatakan justru “Lebih berbahagia memberi daripada menerima”. Mengapa? Dan pemberian yang bagaimanakah yang bisa membuat kita berbahagia itu?

Pembahasan isi
· Nats pembacaan kita ini, diungkapkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Selama kurang-lebih 3 tahun Paulus melayani di sana.

· Paulus melihat bahwa jemaat di Efesus memiliki kehidupan yang baik secara ekonomi, namun mereka kurang peduli dalam mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan

· Memang untuk pelayanan Paulus sendiri di Efesus, ia bisa membiayai sendiri pelayanan itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa jemaat Efesus tidak perlu mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan. Karena ada banyak pelayanan pekerjaan Tuhan yang membutuhkan dukungan mereka.

· Karena itu Paulus menasihati jemaat agar mereka jangan hanya hidup untuk diri mereka sendiri saja, tetapi mereka harus belajar memberi untuk pekerjaan Tuhan dan untuk sesama yang membutuhkan pertolongan. Menurut Paulus di situlah justru letaknya KEBAHAGIAAN bagi orang percaya. Jadi kebahagiaan orang percaya bukan diperoleh hanya dengan mengumpulkan dan menerima, serta hidup hanya untuk diri sendiri. Tetapi justru ketika jemaat MEMBERI.

· Itulah sebabnya Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus, yang berkata: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Pendalaman
· MEMBERI yang bagaimana, yang dapat membuat kita berbahagia/bersukacita (2 Kor.9:7)?

· Agar kita BERBAHAGIA dalam MEMBERI, maka kita harus memiliki konsep dan motivasi yang benar dalam memberi.

· Konsep yang benar dalam memberi adalah dengan mencontoh Allah yang memberi. Dalam hubungnan luar negeri kita mengenal istilah negara donor dan negara penerima. Allah adalah satu-satunya PENDONOR/PEMBERI yang mutlak dan manusia, sampai kapan pun, bahkan sampai akhir zaman adalah PENERIMA. Jadi MEMBERI adalah sifat ilahi.

· Jadi kalau manusia diberi kesempatan oleh Allah untuk MEMBERI, hal itu bererti suatu kehormatan dan kemuliaan karena itu seharusnya kita BERBAHAGIA dalam memberi. Karena ketika MEMBERI dengan motivasi yang benar berarti manusia menjadi gambar dan teladan Allah. Itulah sebabnya melalui PEMBERIAN yang dilakukan orang percaya, dunia akan melihat kemurahan dan kasih Allah kepada dunia ini.

· PEMBERIAN yang bagaimana yang Allah lakukan?

· Pertama, Allah MEMBERI bukan untuk mengikat/mengendalikan tetapi untuk membangun manusia. Allah memberi hidup, kesempatan dsb. Dan pemberian yang terbesar adalah Yesus Kristus, untuk menyelamatkan dan mengembalikan manusia kepada citra Allah.

· Ini berbeda dengan pemberian manusia; manusai memberi biasanya untuk mengikat. Misalnya: Pemberian waktu pertunangan adalah untuk mengikat wanita agar ia tidak lagi menjalin kasih dengan laki-laki lain. Atau dalam diakonia: memberi beasiswa tapi anak itu harus mengikuti yang kita mau; ia harus begini dan begitu.

· Pemberian seperti ini tidak membawa kebahagiaan karena pemberian seperti ini akan selalu diikuti kecemasan, kekuatiran dan ketakutan, yaitu takut kalau yang diberi tidak mengikuti apa yang kita mau; takut kalau pemberian itu tidak mampu mengikat dia dsb. Akhirnya kita bisa menjadi kecewa, marah, dan mengumpat bahkan segala macam yang buruk akan terlontar kepada orang itu.

· Kedua, Allah memberi bukan untuk mendapatkan sesuatu tetapi karena KASIH semata. Allah memberi bukan supaya manusia memberi kepada-Nya, Allah mengasihi bukan supaya manusia mengasihi-nya. Karena jika itu motivasi Allah dalam memberi dan mengasihi manusia maka Allah pasti akan kecewa, manusai tidak pernah betul-betul memberi dan mengasihi Allah. Allah tidak pernah kekurangan sesuatu dari manusia.

· Demikian juga dengan kita, kalau kita memberi maka kita harus memberi bukan untuk mendapatkan sesuatu tetapi karena kita mengasihi dan bersyukur.

· Untuk dapat memberi tanpa mengharapkan sesuatu, maka
- kita harus memberi dengan suka dan rela bukan dengan duka dan paksa (2 kor. 9:7)
- memberi berdasarkan apa yang ada pada kita (berkat yang telah kita terima) bukan berdasarkan apa yang tidak ada (yang diinginkan) jadi harus sebagai ungkapan syukur, bukan seperti pasang lotre.
- Misal: memberi ‘cepek’ supaya dapat ‘cetiaw’
- Memberi seperti ini tidak membawa bahagia tapi kecewa.

· Ketiga, PEMBERIAN Allah adalah pemberian yang relasional. Ia bukan hanya memberi sesuatu kepada manusia tetapi Ia memberi Diri-Nya sendiri bagi manusia. Ia menjadi manusia dan Ia mau repot dengan manusia. Pemberian-Nya tidak menggantikan relasinya dengan manusia.

· Banyak orang memberi, tapi tidak mau menjalin relasi dengan yang diberi karena takut direpotkan. Misal: Suami yang mencukupi kebutuhan keluarga tapi tidak memberi waktu untuk istri dan anaknya. Demikian juga dengan sesama yang lain.

· Hal ini tidak akan membawa kebahagiaan. Karena Memberi dengan menjalin relasilah yang akan membawa kebahagiaan. Contoh: Seseorang yang telibat dalam urusan diakoni mengaku: “berbahagia ketika berbicara dan mendengar ungkapan syukur dari orang-orang yang dibantu olehnya.

· Untuk apa dan kepada siapa kita memberi?

· Kita memberi untuk pelayanan pekerjaan Tuhan di dunia ini (Maleakhi 3:10, 1 Taw. 29:14) (Kasihilah Tuhan,...)

· Untuk sesama manusia yang membutuhkan pertolongan (kasihilah sesamamu manusia...)

· Agar kita dapat memberi dengan tepat, maka kita harus tahu apa yang menjadi kebutuhan pelayanan dan sesama kita yang menderita:
- sudahkah kita peka terhdap pelayanan diakonia di gereja ini: pelayanan pendidikan, kesehatan, panti jompo, gelandangan, fakir miskin, korban bencana alam, sosial ekonomi dsb.
- Sudahkah kita peka terhadap kebutuhan sesama di sekitar kita yang tidak terjangkau pelayanan gereja?
- Mungkin mereka keluarga kita, saudara kita, tetangga kita atau kenalan kita atau siapa pun mereka.

· Marilah kita MEMBERI, pertama-tama: diri kita, waktu kita, perhatian kita dsb. Kemudian kita melakukan sesuatu bagi mereka.
· Marilah kita memberi sebagaimana Allah telah memberi maka kita akan merasakan bahwa memang benar Firman Tuhan yang mengatakan: “Lebih berbahagia memberi dari pada menerima”

Kiranya Firman Tuhan menjadi berkat bagi kita dan menjadi kemuliaan bagi Tuhan. AMIN.

20081127

"Menjadi Sesama Bagi Yang Menderita"

Lukas 10: 25-37


Pendahuluan
· Ada seorang bijak yang sangat mengagumi Yesus dan sangat tertarik dengan ajaran-ajaran-Nya. Tetapi ketika orang bijak ini datang ke sebuah gereja, ia sangat kecewa melihat sikap hidup orang-orang Kristen yang sangat bertolak belakang dengan ajran Yesus. Dalam kekecewaannya ia berkata demikian: “Saya tidak akan menjadi Kristen, sebelum saya melihat hidup orang Kristen kelihatan lebih selamat dari pada saya.”

· Dengan perkataan lain orang bijak ini berkata, jika kita adalah orang yang telah diselamatkan atau memperoleh hidup yang kekal, tunjukkanlah atau buktikanlah hal itu dalam sikap hidup kita, perkataan dan perbuatan kita. Jika kita anak Raja hiduplah sebgai anak Raja, jika anak Allah hiduplah sebagai anak Allah, bukan sebagai pendusta atau anak durhaka.

· Melalui Perumpamaan Orang Samaria Yang Murah Hati ini, Tuhan Yesus hendak mengajar kita tentang Keselamatan atau Hidup Kekal dan hubungannya dengan sikap hidup dan perbutan kita terhadap sesama manusia.

· Perumpamaan ini ditujukan kepada orang-orang yang merasa puas dan bangga karena telah beribadah secara seremonial (upcara) tetapi tidak berbuat apa-apa setelah pulang dari upacara ibadah itu.


Bahasan Isi
· Munculnya perumpamaan ini, berawal dari pertanyaan seorang ahli Taurat yang ingin mencobai Yesus, dengan mengecek ajaran-Nya tentang cara memperoleh hidup yang kekal dan siapa itu sesama manusia.

· Ahli Taurat itu bertanya: tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus tidak menjawabnya tetapi ia hanya mengingatkan akan apa yang ia sudah tahu yang ada dalam hukum Taurat. Dan ia menjawab tentang hukum kasih, yaitu kasih kepada Allah (Ulangan 6:5) dan kasih kepada sesama manusia (Imamat 19:18).

· Kata Yesus, jawabmu itu benar pergilah dan perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup. Di sini Yesus hendak menekankan bahwa HIDUP KEKAL dapat diperoleh bukan dengan PENGETAHUAN Taurat, atau ayat-ayat Alkitab, atau pengetahuan tentang kasih kepada Allah dan sesama melainkan dengan BERBUAT KASIH.

· Tampaknya ahli Taurat itu setuju dengan apa yang dikatakan Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal yaitu dengan mengasihi Allah. Tetapi ALLAH itu tidak kelihatan, karena itu untuk mengasihi ALLAH harus ada wujudnya, dan wujud mengasihi ALLAH itu adalah dengan MENGASIHI SESAMA. Karena itu ahli Taurat ini tidak lagi mempertanyakan bagaimana mengasihi Allah tetapi bagaimana mengasihi sesama, terutama soal: “siapakah sesamaku manusia itu”.

· Orang Yahudi umumnya memahami bahwa SESAMA MANUSIA adalah saudara sebangsa, sesama orang yahudi, atau orang bangsa lain yang memeluk agama yahudi, sedangkan di luar itu adalah orang kafir atau bukan sesama, karena itu mereka tidak perlu dikasihi. Karena bagi mereka menolong orang kafir adalah setuju dan membiarkan kekafiran ada di dunia ini. Misalkan saja: mereka dilarang menolong orang kafir yang menderita melahirkan, karena dengan menolongnya berarti mereka menyebabkan datangnya seorang kafir baru ke dunia ini. Dan itu merupakan suatu kejahatan bagi mereka.

· Ahli Taurat itu mungkin merasa bahwa KONSEPNYA/PEMAHAMANNYA tentana sesama manusia itu, itulah yang benar. Karena itu ia bertanya untuk MEMBENARKAN dirinya: “Siapakah sesamaku manusia?”

· Dalam konteks inilah Yesus menceritakan perumpamaan ini kata-Nya: “ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yeriko (berjarak kira-kira 27 Km. Dan merupakan jalan yang menurun, karena Yerusalem letaknya lebih tinggi dari Yeriko). Pada abad kelima jalan ini disebut “jalan Merah atau jalan darah” dan abd ke-19 untuk melewati jalan ini orang harus membayar upeti kepada SHEIK setempat untuk keamanan dirinya.

· Dikatakan: orang yang lewat itu dirampok habis-habisan dan HAMPIR MATI. Tidak lama kemudian seorang imam turun dari Yerusalem melewati jalan itu (mungkin ia telah memimpin ibadah di Yerusalem dan hendak pulang ke Yeriko, karena Yeriko adalah kota di mana para imam banyak bermukim). Imam itu melihat orang yang hampir mati itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Mengapa ?

· Mungkin imam itu berpikir bahwa orang itu sudah mati, sedangkan jika ia menyentuh mayat, maka ia akan najis selama 7 hari dan ia kehilangan haknya untuk memimpin upacara berikutnya di bait Allah, sehingga dari pada ia kena najis lebih baik ia lewat saja.

· Kemudian orang Lewi lewat juga di situ dan melihat orang itu tapi ia pun melewatinya dari seberang jalan. Karena orang Lewi berprinsip: yang penting adalah keselamatan diri. Ia takut kalau orang yang hampir mati itu adalah seorang gerombolan penjahat yang berpura-pura, jadi kalau ia menolongnya maka ialah yang akan dirampok, sehingga dari pada ia membahayakan diri sendiri, lebih baik lewat saja.

· Dari sini kita bisa menarik sebuah pelajaran: Imam dan Orang Lewi itu dikatakan berjalan turun, berarti dari Yerusalem menuju ke Yeriko. Dan ini berarti mereka baru saja mengikuti Ibadah di Bait Allah, mereka melayani di Bait Allah, mereka mungkin berkotbah atau mendengarkan kotbah dsb. Tetapi setelah mereka pulang dari Ibadah/Bait Allah/Gereja apa yang mereka lakukan…….?

· Bagi mereka yang penting adalah Ibadah di gereja atau melayani di gereja saja, atau mendengar Firman Tuhan di gereja dan itu bagi mereka sudah cukup untuk mendapat keselamatan, sekalipun mereka tidak berbuat atau tidak melakukan apa yang didapat dari gereja yaitu firman Tuhan.

· Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus hendak menekankan bahwa Ibadah itu memang penting……, tetapi hal yang sangat penting yang tidak boleh terpisah dari Ibadah adalah APA YANG KITA LAKUKAN SETELAH IBADAH ITU ! Karena ibadah secara UPACARA atau SEREMONIAL saja adalah Nol Besar, jika kita tidak melakukan Firman setelah ibadah itu.

· Lalu datanglah ORANG SAMARIA melewati jalan itu. Orang Samaria adalah orang yang dianggap hina secara teologis atau agama oleh orang Yahudi karena mereka tidak hidup menurut aturan agama Yahudi, secara budaya ia kawin Campur dengan bangsa lain, karena itu orang Yahudi menganggap hina mereka dan tidak bergaul dengan mereka.

· Tetapi di luar dugaan para pendengar perumpamaan itu, Yesus katakan: ketika ia (orang Samaria itu) melihat orang yang sekarat dan hampir mati, lalu TERGERAKLAH HATINYA OLEH BELAS KASIHAN, lalu ia menolong orang itu sampai tuntas.

· Sampai di sini perumpamaan itu berakhir. Dan Yesus mengoreksi pertanyaan ahli Taurat tentang : “Siapakah sesamaku manusia?” Karena dengan pertanyaan ini kita bisa memilih siapa saja sesama kita, yaitu yang cocok dengan kita, yang sepaham dengan kita, hanya saudara sekandung atau saudara segereja saja atau yang seagama saja, bisa sesama suku, bisa sesama orang yang kaya, sesama yang pandai, dsb.

· Dan hal ini di satu sisi memang mengasihi sesama tetapi di sisi lain membenci sesama yang lain, bahkan menimbulkan tembok-tembok pemisah dan fanatisme yang sempit. Yang hanya memperjuangkan kebahagiaan/kebaikan kelompoknya sekalipun dengan cara membuat sesama yang lain menderita bahkan mati menjadi korban. Bukankah ini yang terjadi di negara kita sekarang…..? Perang suku, ras dan antar golongan bahkan menjurus pada perang agama dibeberapa daerah. Semua ini disebabkan karena pemahaman yang sempit tentang SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA.

· Karena itu Yesus tidak menjawab pertanyaan ahli Taurat itu yang mempertanyakan “Siapakah sesamaku manusia” tetapi melalui perumpamaan itu Yesus balik bertanya kepadanya, “Siapakah diantara ketiga orang ini, ….adalah sesama manusia dari orang jatuh ke tangan penyamun itu?”

· Yang terpenting menurut Yesus bukanlah bertanya secara teoritis:”Siapakah sesamaku manusia” tetapi berbuatlah secara praktis sebagai SESAMA MANUSIA BAGI MEREKA YANG MENDERITA dan membutuhkan pertolongan.

· Jadi dalam MENGASIHI SESAMA, tekanannya bukan KITA MEMILIH SIAPA SESAMA KITA…, tetapi terletak pada kehendak atau kemauan kita, yaitu MAUKAH KITA MENJDADI SESAMA BAGI ORANG YANG MENDERITA. Karena yang paling membutuhkan sesama dalam hidup ini adalah orang-orang yang demikian, karena jarang orang mau menemani orang yang menderita. Tetapi untuk orang yang kaya, sukses, pandai dsb. banyak orang akan datang menemani Dan menjadi sesamanya.


Refleksi/Penerapan
· Kita sering mendengar bahwa keselamatan dan hidup yang kekal adalah karena iman. Tetapi dari firman ini kita tahu bahwa iman itu bukan sekedar pengetahuan dan perasaan. Mengetahui ayat-ayat Alkitab dan merasa telah hidup benar, BELUM TENTU Saudara BERIMAN. Karena iman itu menyangkut seluruh aspek kehidupan kita terutama PERBUTAN kita yang penuh kasih terhadap sesama , yang dilakukan kapan pun, di mana pun dan terhadap siapa pun.

· Beribadah secara seremonial itu penting dan mempunyai prinsip hidup itu pun baik, tetapi MENGASIHI SESAMA dalam praktek adalah hal penting yang tidak boleh terpisah dari ibadah seremonial yang kita lakukan.

· Untuk MENGASIHI SESAMA dibutuhkan keberanian dan pengorbanan. Mungkin kita harus mengorbankan prinsip hidup kita yang egois, mungkin harta, mungkin waktu, tenaga dsb. karena itu dalam mengasihi sesama jangan bertanya SIAPA sesama kita yang harus kita kasihi, tetapi MAUKAH kita menjadi sesama bagi mereka yang menderita dan membutuhkan pertolongan.

· Inilah cara memperoleh hidup yang kekal, yaitu mengasihi Allah dengan segenap aspek hidup kita. Dan bukti mengasihi Allah adalah dengan mengasihi sesama dan menjadi sesama bagi mereka yang menderita, siapapun mereka: baik seiman atau pun tidak, mereka mungkin ada di dalam keluarga kita atau di luar keluarga kita, di dalam gereja atau di luar gereja kita, mereka bisa ada di mana saja tetapi YANG JELAS mereka ada disekitar kita .

· Maukah Saudara memperoleh hidup yang kekal ? PERGILAH DAN PERBUATLAH seperti orang Samaria itu, menjadi sesama bagi orang yang menderita MAKA KAMU AKAN HIDUP ! A M I N !



Handri Rusli, 04.03.2001