Translate

20090408

Kematian Kristus Sebagai Karya Keselamatan Allah Yang Sempurna

(Ibrani 10:16-25, Yohanes 18, 19)
Bicara mengenai kesempurnaan akan membawa kita membandingkan dengan ketidak-sempurnaan. Demikian yang dilakukan penulis surat Ibrani ketika membicarakan karya keselamatan Kristus yang sempurna. Dalam hal ini penulis membandingkan secara tajam antara kurban yang dipersembahkan Yesus dengan kurban-kurban hewan yang dipersembahkan para imam.
Kurban Yesus dipersembahkan sekali untuk menghapus semua dosa manusia dan untuk selama-lamanya, demikian penulis surat Ibrani katakan, "Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, ... Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan" (10:12,14). Sedangkan kurban-kurban hewan yang dilkakukan para imam harus dilakukan tiap-tiap hari dan berulang-ulang namun tidak juga menghapuskan dosa (10:11) bahkan hal itu hanya untuk menyadarkan manusia akan keberdosaannya saja.
Mengapa hanya kurban Yesus yang sempurna?
Pertama, karena Yesus adalah Anak Allah -- Anak yang kekal. Sebagai Anak Allah, Ia menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa melalui ketabahan-Nya untuk menderita bahkan mati disalib sebagai kurban penghapus dosa (Yohanes 18 – 19). Sebagai Anak Allah, Yesus lebih tinggi dari nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Ia pun lebih tinggi dari malaikat atau Musa sendiri. Namun Ia taat pada Bapa untuk menjadi kurban penghapus dosa.
Kedua, karena Yesus adalah Imam Agung yang lebih tinggi daripada imam-imam dalam Perjanjian Lama (ay. 21), dengan perantaraan Yesus, orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari dosa dan dari ketakutan dan kematian. Sebagai Imam Agung, Yesus memberikan kepada manusia keselamatan sejati yang tidak dapat diberikan oleh upacara-upacara persembahan kurban dan upacara-upacara lainnya di dalam agama Yahudi. Upacara-upacara itu hanya dapat memberikan gambaran dari keselamatan sejati itu saja, lain tidak.
Hari ini, kita memperingati karya keselamatan Allah yang sempurna di dalam kematian Kristus di kayu salib. Dalam kesetiaan dan ketaatan-Nya pada Bapa, Ia tabah menghadapi derita salib. Hal ini seharusnya membawa kita juga untuk setia dan taat pada Allah dalam hidup ini sekalipun di dalam pergumulan dan penderitaan yang mungkin kita hadapi.
Hari ini juga kita memperingati kebaikan dan kemurahan Allah yang paling besar bagi semua orang karena Yesus mati bukan saja untuk orang-orang Kristen, tetapi juga untuk mereka yang di luar kekristenan bahkan yang membenci kristen sekalipun, Ia mati untuk mereka yang di dalam gereja tetapi juga untuk mereka yang di dalam penjara, untuk mereka yang kaya tetapi juga untuk mereka yang miskin. Karena itu hendaklah peringatan ini mendorong kita juga untuk mengasihi dan berbuat baik kepada semua orang (ay. 24).
Karena itu marilah kita datang ke Perjamuan Kudus-Nya dengan hati yang murni dan penuh syukur atas keselamatan sempurna yang dianugerahkan-Nya kepada kita. Selamat memperingati Jumat Agung, selamat memperingati kemurahan Allah terbesar bagi kita semua, kiranya Tuhan menolong kita juga untuk bermurah hati kepada sesama. Amin.

(Handri R.-renungan Jumat Agung, 10042009)

20090402

Hidup Cerminan Pengakuan Iman

Roma 10:4-21

Setiap orang menjalani hidup menurut apa yang diyakininya “baik” dan “benar”. Hal ini dapat terlihat melalui kehidupan di sekitar kita. Misalnya ada orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan sangat keras, mengapa? Karena cara itulah yang ia yakini baik dan benar untuk anak-anaknya dikemudian hari. Demikian juga dengan orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan lembut dan pengertian, karena keyakinan yg sama. Bahkan apa yang dilakukan para teroris dengan bom bunuh diri adalah tidak terlepas dengan apa yang mereka yakini sebagai “baik” dan “benar” itu.

Dengan memahami ini kita jadi dapat mengerti mengapa umat beragama “A” berperilaku begini dan umat beragama “B” berperilaku begitu, yaitu karena apa yang mereka yakini sebagai “baik” dan “benar”. Karena itu, dalam hal-hal tertentu, kita dapat dengan mudah membedakan orang-orang menurut keyakinannya, misal mana yang beragama A, B, atau C melalui apa yang mereka perbuat

Hal inlah yang Rasul Paulus ceritakan di Roma 10:1-21. Rasul Paulus sangat menginginkan agar bangsanya, umat Yahudi, diselamatkan karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya (ay. 1). Tapi hal ini tidak mudah karena orang-orang Yahudi meyakini, mengimani bahwa keselamatan itu adalah karena mentaati Hukum Taurat bukan karena percaya pada Yesus. Dan itulah sebabnya mereka begitu giat melakukan amal perbuatan sesuai Taurat (ay.2) sebagai wujud keyakinan bahwa itulah cara mendapatkan keselamatan yang benar.

Jika orang Yahudi begitu giat hidup mencerminkan keyakinannya dengan ketaatan penuh pada Hukum Taurat, Bagaimana dengan kita yang meyakini bahwa keselamatan adalah karena iman kepada Yesus? Menurut Rasul Paulus, percaya/iman bukan saja masalah hati tetapi juga soal mengaku dengan mulut (ay. 10) dan bahkan nyata juga dalam segala tindakan (Yakobus 2:18, 20, 26). Jadi sebagai orang-orang yang telah diselamatkan karena iman kepada Yesus, seharusnya hati kita penuh sukacita, mulut kita penuh dengan ungkapan syukur dan pujian dan tindakan kita penuh dengan kasih dan pengampunan, karena kita telah dikasihi dan diampuni oleh Tuhan.

Dengan demikian hidup kita menjadi cerminan iman kita. Semoga Tuhan menolong kita. (HR, 05042009)