Translate

20100624

Hidup Bersama

-->
Oleh: Handri Rusli

II Kor. 8:7-15

Dalam kehidupan bersama, baik dalam keluarga maupun dalam bermasyarakat kita mengenal istilah: "ringan sama dijinjing, berat sama dipikul". Sedangkan dalam kehidupan bersama sebagai orang percaya kita mengenal istilah gereja sebagai tubuh Kristus, apa yang dialami satu anggota dirasakan seluruh tubuh. Kedua istilah ini hendak menyatakan bahwa dalam kehidupan bersama susah dan senang, berhasil dan gagal, baik dan buruk dirasakan bersama oleh semua anggota kelompok; saling peduli, saling menopang dan saling mendukung satu sama lain. Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi bila hal ini sungguh-sungguh dipraktekan di dalam keluarga, di masyarakat dan juga di gereja. Pasti akan terjadi hidup bersama yang indah!

Apa yang ideal, dan diharapkan dalam hidup bersama sering berbeda dengan kenyataannya. Itulah yang terjadi pada kehidupan bersama umat percaya pada jaman Rasul Paulus. Sebagai tubuh Kristus, semua umat percaya di berbagai tempat di dunia ini pada hakekatnya adalah satu. Itu berarti kesusahan dan atau kesenangan umat di satu tempat menjadi kesusahan dan atau kesenangan seluruh umat percaya di tempat lainnya. Namun yang terjadi ketika jemaat di Yerusalem mengalami kesusahan dan butuh bantuan jemaat di Korintus kurang peduli. Padahal jemaat Korintus adalah jemaat yang kaya dalam segala hal (ay. 7) tapi ternyata mereka miskin dalam pemberian/pelayanan kasih. Itulah sebabnya Rasul Paulus menegur mereka dengan keras agar mereka bukan hanya kaya dalam hal-hal tertentu saja tetapi juga kaya hati, kaya dalam pelayanan kasih. Rasul Paulus mengajak jemaat Korintus bercermin kepada Jemaat Makedonia, sekalipun dalam kondisi kekurangan namun mereka kaya dalam pemberian (ay. 1-2), dengan membantu jemaat Yerusalem yang butuh pertolongan. Itulah hakekat hidup bersama, saling peduli dan saling membantu, kelebihan yang satu menutupi kekurangan yang lain, sehingga ada keseimbangan. Dan rasul Paulus mengingatkan bahwa kepedulian dan pemberian itu harus dilakukan dengan sukarela bukan dengan terpaksa karena pemberian itu pada dasarnya adalah persembahan kepada Allah (ay.11,12), sehingga dapat menyenangkan hati-Nya.

Dalam kehidupan bersama sebagai umat Allah kita harus selalu menyadari bahwa kita  adalah Tubuh Kristus; apa pun yang dialami sesama kita baik dalam keluarga, dalam jemaat, dalam bersinode bahkan dalam kebersamaan semua gereja di dunia  kita turut merasakannya. Itu berarti apa yang dialami GKI Taman Yasmin dan GK Sarua Permai dalam permasalahan tempat ibadah seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama sebagai Tubuh Kristus. Dan lebih dari itu kita seharusnya menyatakan kasih dan kepedulian kita dengan memberi dukungan dan mendoakannya. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.



20100617

Kesusahan Sebagai Kesempatan

-->
 Ayub 38 : 1 – 11
            Kesusahan! Adakah orang yang tidak pernah mengalami kesusahan dalam hidupnya? Setiap orang pasti pernah mengalami kesusahan, tak terkecuali orang kristen. Dan ketika menghadapi kesusahan setiap orang menghadapinya dengan sikap yang berbeda-beda; ada yang menghadapinya dengan marah, stres, mengeluh, menyalahkan orang lain, bahkan sampai menyalahkan Tuhan. Itulah sebabnya karena kesusahan yang kita alami hidup kita bisa kacau, keluarga bisa hancur dan iman bisa runtuh.
            Melalui kisah Ayub, kita dapat belajar bagaimana seharusnya sikap kita  dalam menghadapi kesusahan hidup. Dalam kesalehan hidup beragamanya Ayub mengalami kesusahan besar dalam hidupnya; harta bendanya habis, anak-anaknya meninggal, dan ia terkena penyakit kulit yang sangat mengerikan. Menghadapi kesusahan itu, bisa saja Ayub bersikap marah, meragukan kebaikan Tuhan dan bahkan menuduh Tuhan melakukan yang tidak adil terhadap dirinya. Tetapi Ayub tidak bersikap demikian, dalam kesusahannya ia memilih sikap tetap percaya pada Tuhan dengan segala kebaikan-Nya, katanya, "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (1:21b).
            Dari Ayub kita belajar bahwa kesusahan ternyata dapat merupakan kesempatan bagi kita untuk menunjukan kesetiaan kepada Tuhan (2:10), kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan yang benar akan Tuhan (42:5), dan kesempatan untuk tetap hidup dalam rencana Tuhan dan penggenapannya (42:10).
            Kesusahan adalah kesempatan, bila kita menyikapi kesusahan itu dengan sikap yang benar dan dengan tetap percaya pada Tuhan dengan segala kebaikannya pada kita.
            Jadi bila kesusahan datang, marilah kita belajar kepada Ayub, dengan menjadikan kesusahan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan tetap kuat di dalam Tuhan. Amin!

(Handri Rusli)