Translate

20150918

Perselingkuhan

2 Samuel 11: 1-4; Matius 5:27-28


Saudara, minggu ini kita merenungkan firman Tuhan yang membahas tentang kejatuhan raja Daud dalam dosa  'perselingkuhan'. Kata selingkuh menurut kamus bahasa Indonesia adalah:1 suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng. 
Dari pengertian ini, berarti selingkuh tidak hanya berarti adanya PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL (Wanita Idaman Lain) dalam kehidupan rumah tangga, tetapi juga dosa-dosa dalam bentuk lainnya yang intinya adalah ketidakjujuran untuk kepentingan diri sendiri.

Namun demikian, renungan kita minggu ini secara khusus membahas perselingkuhan dalam kehidupan rumah tangga. Daud jatuh dalam dosa perselingkuhan bahkan perjinahan dimulai dari hal yang sederhana yaitu melihat (ay 2), tapi kemudian ia mengingini (milik orang lain) yang dilihatnya dan akhirnya ia melakukan apa yang diingininya, yaitu Daud tidur dengan Batsyeba (ay 3, 4). Untuk menutupi dosa perselingkuhannya, Daud melakukan dosa yang lain dengan membunuh Uria, suami Batsyeba, dengan cara yang licik dan kejam dengan membiarkannya terbunuh di medan perang (ay 6-21). Akibat dari dosa perselingkuhan Daud dengan Batsyeba ini, maka Tuhan menghukumnya dengan segala peristiwa yang terjadi dalam kerajaannya (lihat pasal-pasal berikutnya), karena..... hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN (ay 27)

Saudara, dari kisah ini kita diingatkan, jika Daud seorang raja pilihan Tuhan saja bisa jatuh dalam dosa perselingkuhan dan perjinahan, demikian juga dengan kita, kita pun bisa jatuh dalam dosa yang sama jika kita tidak berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Marilah kita memohon kepada Tuhan, agar Tuhan melindungi kita dari dosa yang satu ini, dan apabila kita telah jatuh marilah kita bertobat, mohon ampun pada Tuhan, dan memulai hidup yang baru bersama Tuhan. Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati kita. Amin!


HR, renungan warta gk bogor 19.09.2015

20150903

Allah Membentuk Keluarga

Kejadian 2:8-25

Saudara, dahulu banyak orang menikah dan membentuk keluarga karena dijodohkan oleh orang tua mereka atau oleh kerabat mereka, tetapi sekarang pada umumnya orang menolak dijodohkan dan lebih suka menikah dan membentuk keluarga dengan orang yang dipilihnya sendiri dengan orang yang dicintainya, dengan harapan agar pernikahannya dan keluarga yang dibentuknya akan bahagia dan langgeng.

Melalui firman Tuhan hari ini, kita diingatkan, bahwa pada dasarnya pernikahan terjadi dan keluarga terbentuk adalah karena Allah yang merancangnya dengan tujuan agar manusia dapat mengerjakan apa yang menjadi tugasnya di dunia ini, yaitu "... untuk mengusahakan dan memelihara..." (Kej 2:15). Dengan rancangan Tuhan ini, manusia menjadi merasa kesepian jika ia hidup seorang diri (ay 18) dan rasa kesepian itu mendorong dia untuk mencari teman hidup yang sepadan (ay 20). Namun pasangan yang sepadan itu tidak dijumpainya sampai Tuhan membentuk seorang perempuan dari rusuknya dan membawanya kepada manusia itu (ay 22) sehingga manusia itu menemukannya dan berkata, "inilah dia.... (ay 23).

Saudara, bagaimana Anda dapat bertemu dengan pasangan hidup Anda? Apakah dijodohkan? Atau karena pilihan sendiri? Sadarilah..., bahwa semuanya itu bisa terjadi karena Tuhan telah menciptakan pasangan hidup untuk kita dan Tuhan juga yang membawanya kepada kita, sehingga kita bisa menemukannya dan berkata, "inilah dia ... jodohku!" Jodoh adalah pemberian Tuhan, karena itu bagi Saudara yang telah menemukan jodohnya dan mengikatnya dalam ikatan pernikahan, jaga dan lestarikanlah jodoh itu dalam kehidupan keluarga. Namun bagi Saudara yang belum menemukan jodoh dan butuh teman hidup untuk membentuk keluarga, berusahalah, cari dan temukanlah jodohmu, karena bila kita percaya bahwa Tuhan telah menciptakan pasangan hidup untuk kita, kita harus percaya juga bahwa Tuhan akan menolong kita menemukan jodoh dan melestarikannya dalam kehidupan keluarga. Amin.

(HR, renungan warta jemaat GK Bogor, 2015.09.06)